Selasa, 31 Juli 2018

Antara keinginan dan kenyataan

Terkadng hidup itu tidak seiring dengan apa yang kita impikan dan kita cita-citakan dan bahkan sering sebalikannya yang kita dapatkan, namun itulah sebuah kenyataan yang harus kita tempuh baik suka ataupun tidak


Sering kita mendengar celotehan anak-anak kita, mereka sering berbincang dengan teman sebaya mereka ataupun dengan kakak-kakak serta orang tua mereka, mereka sering mengatakan bahwa nanti kalau sudah besar saya mau jadi itu ataupun jadi ini.



Hal itu adalah sebuah kewajaran bagi mereka dan merupakan motifasi agar mereka giat dalam belajar dan menuntut ilmu. Namun yang sering kita liat dan saksikan bahwa setelah mereka besar dan tumbuh menjadi dewasa apa yang dulu sering mereka ungkapkan tidaklah menjadi kenyataan dan bahkan mereka sering lupa apa yang dulu pernah mereka cita-citakan.


Cepat ataupun lambat hidup ini pasti akan berakhir dan akhir dari pada kehidupan adalah maut alias kematian, tiada satupun manusia yang mengetahui kapan sang maut itu akan mendatangi dirinya bahkan kebanyakan manusia tidak mengira bahwa maut itu sudah sangat dekat dengan dirinya.


Kebanyakan manusia berfikir hanya untuk kesenangan sesaat, kesenangan yang dapat membuat dirinya lupa bahwa besok atau lusa maut itu akan segera mendatanginya. Terkadang kita sering berfikir bahwa kita ini akan hidup selamanya sehingga sering membuat kita merencanakan sesuatu untuk jangka panjang, kita lupa kalau rencana itu hanyalah kehendak sang khalik. Dalam perencanaan yang belum tentu terlaksana itu tiba-tiba maut datang menjemput kita.


Terjadilah penyesalan yang tiada tara dan tiada berakhir, menyesali dan meratapi mengapa dulu aku tidak Shalat, mengapa dulu aku tidak memberi makan pakir miskin dan mengapa dulu aku tidak melakukan amalan-amalan Saleh serta mengapa dulu aku tidak bersama orang-orang saleh melakukan kebaikan-kebaikan dimuka bumi dulu.


Sayangnya semua penyesalan-penyesalan itu tiada akan merubah keadaan lagi







Tidak ada komentar:

Posting Komentar