Rabu, 14 Agustus 2019

Ketika ajal kian mendekat

Khutbah Pertama
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
         يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ        
اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Kaum muslimin rahimahkumullah

Marilah kita sealalu bersukur atas segala apa yang telah Allah diberikan pada kita semua, baik kesehatan, kesempatan ataupun yang paling tinggi dari semua itu adalah iman. Sehingga ia telah mampu mengantarkan kita ketempat yang mulia ini untuk melaksanakan kewajiban kita pada setiap hari jumat. Shalawat dan salam hendaklah selalu tercurah kepada huswatun kita Nabi Muhamad saw, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan umatnya yang selalu sabar dalam mengikuti sunnah-sunnahnya. Dan juga yang tak kalah pentingnya sy mengajak kita semua untuk selalu bertaqwa kepada Allah ‘Azza wajalla, agar kita selalu melakukan kebaikan-kebaikan dan beribadah padanya sesuai dengan tuntunannya dan tuntunan Rasulnya.
Kaum msulimin yang insyaAllah selalu dirahmati Allah
Adpun tema khutbah kita siang ini adalah : “KETIKA AJAL KIAN MENDEKAT

Bila kita merenungi tentang perjalanan kehidupan anak manusia dimuka bumi ini, maka otomatis kita akan sadar bahwa sesungguhnya tidak ada lagi orang-orang yang dekat dengan kita pada saat ini yang masih berumur sampai ratusan tahun, jangankan ratusan tahun, diusia 90 an tahun saja sudah termasuk barang yang langkah. Yang masih banyak kita temui dan kita lihat saat ini umur umat nabi Muhamad ini adalah kisaran umur 60-80 tahunan. Dan bila kita memperhatikan orang-orang tua yang sudah berumur 70-80 tahunan saat ini itupun sudah Nampak rentah dan sudah tidak mampu lagi melakukan aktivitas selayaknya ketika mereka masih berusia 50-60 tahunan. Kalau kita simak ayat Alquran yang berbunyi :

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya : “Katakanlah’ Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jumu’ah :8)

Dan Hadits nabi yang berbunyi :

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Artinya : “Umur-umur umatku antara 60-70 tahun dan sedikit dari mereka yang melebihi itu”. (HR.Tirmizi) (Dihasankan Sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam Fahtul Bahri, 11/240

Bila kita menyimak dan merenungkan ayat Alquran dan hadits diatas, kita memahami betul bahwa tidak ada seorangpun dari kita manusia ini yang akan dapat menghindarkan diri dari kematian dan sesungguhnya kitapun akan dikembalikan kepada Allah sang pencipta manusia itu sendiri. Dan didalam hadits diatas Rasulullah saw telah memberikan isyarat bahwa umat beliau hanya akan hidup kisaran umur 60 tahunan sampai 70 tahunan dan tidka akan banyak yang akan lebih dari itu. Jadi bila kita renungi dengan baik wajar saja saat ini bila sudah sedikit yang berumur sampai seratus tahun dan bahkan diumur 70 dan 80 tahunan saja sudah banyak dari umat nabi muhamad diakhir jaman ini yang sudah mulai Nampak rentah dan pikun.

Kaum muslimin rahimahkumullah

Dalam kesempatan yang mulia saya ingin menukil sebuah tulisan dari seorang anak bangsa yang sangat terkenal dinegara kita dan bahkan didunia, karena kemampuanya dalam bidang technologi yaitu Prof Dr Ing BJ Habibie yang merupakan pesan bagi kita semua. Dalam tulisannya beliau berpesan “Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology, sehingga sya mampu membuat pesawat terbang. Tapi sekarang saya menyadari dan mengetahui bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat bagi umat. Dan bila saat ini sy disuruh memilih keduanya maka sy akan memilih ilmu agama”.
Itulah pesan pertama beliau dalam Tulisannya. Kemudian beliau menceritakan bagaimana tentang hari-harinya setelah ia ditinggalkan isterinya, beliau berkisah “kehidupan dirumahnya terasa sunyi, isteri sudah meninggal, tangan sudah menggigil karena sudah lemah, penyakit telah menggerogoti sejak lama, duduk tak enak berjalanpun tak nyaman.. untunglah ada seorang kerabat jauh mau menemani bersama seorang pembantu…tiga anak semuanya sudah sukses…. Berpendidikan tinggi sampai keluar negeri, ada yang berkarier diluar negeri, ada yang jadi pengusaha dan ada pula yang bekerja diperusahan asing dengan posisi tinggi. Persoalan ekonomi saya angkat jempol kepada mereka (Anak-anaknya-pen) semuanya kaya Raya……. Namun sambungnya, saat tua seperti ini dia merasa hampa ada pilu mendesak disusdut hatinya, tidurpun tak nyaman, dia berjalan memandangi fhoto-fhoto masa lalunya ketika ia masih perkasa dan energik yang penuh dengan kenangan. Dirumah yang besar dia merasa kesepian tiada suara tangis dan tawa anak dan cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur…. Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya  dan dari sudut matanya ada air yang menetes rindu akan kunjungan anak dan cucu-cucunya. Tapi semua anaknya sibuk semuanya tinggal dikota atau negeri lain. Ingin pergi ketempat ibadah, namun badan tak mampu berjalan… sudah terlanjur melemah… begitu lama waktu ini bergerak, tatapanya hampa, jiwanya kosong hanya gelisah yang menyeruak sepanjang waktu.
Laki-laki renta itu barang kali adalah saya atau mungkin anda yang sedang membaca tulisan ini suatu saat nanti. Kita hanyalah menunggu sesuatu yang tidak pasti dan yang pasti hanyalah kematian. Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya. anak yang sukses tidak mampu lagi menyejukan rumah mewahnya yang ber AC. Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang. Asset-aset produktif yang selalu menghasilkan, entah untuk siapa?. Kira-kira jika malaikat pencabut nyawa datang menjemput, akan seperti apakah kematianya nanti?. Siapa yang akan memandikan? Dimana akan dikuburkan? Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang untuk mengurus jenazah dan menguburkan?
Apa amal yang akan dibawa keakhirat nanti? Rumah akan ditinggal asset juga akan ditinggal pula. Anak-anak entah apakah akan ingat berdo’a untuk kita atau tidak??? Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan??? Apalagi jika anak tak sempat dididik sesuai dengan tuntunan agama??? Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja.
"Kalau lah sempat" menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah yang lainnya...
"Kalau lah sempat" dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang......
"Kalau lah sempat" memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan.....
"Kalau lah sempat" membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan...
Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi "Amal Penolong" nya ...
Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan
Ibadah sedekahnya di bimbing/diajarkan & diperhatikan, maka mungkin ia senantiasa akan 'Terbangun Malam hari', 'meneteskan air mata' mendoakan kedua orang tuanya.
Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama...
"KALAULAH SEMPAT"
Mengapa kalau sempat ?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius?
Menyiapkan 'bekal' untuk menghadap-Nya dan 'Mempertanggung Jawabkan kepadaNya?
Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang bisa melalaikan.....
Kita boleh saja giat berusaha di dunia....tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang & kekal di akhir hidup kita.
Teruslah menjadi "si penabur kebajikan" selama hayat masih dikandung badan meski hanya sepotong pesan.
Semoga Bermanfaat...🙏
Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie
Kaum muslimin rahimahkumullah
Itulah sedikit tulisan Bj Habibie sebagai pesan dan nasehat kepada kita semua, agar kita semua jangan menyesal setelah hari tua nanti, makna yang mendalam yang beliau sampaikan adalah agar kita semua mau belajar ilmu agama, karena dengan agamalah hidup kita akan mulia dan dengan agamlah kita akan bahagia, tiada ada kebahagiaan dengan harta yang melimpah dan anak yang sukses tapi hanya dalam urusan dunia, maka didiklah anak-anak kita dengan ilmu agama yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah. Karena tanpa ilmu agama hidup akan menjadi hampa masa tua akan menjadi penyesalan bagi kita semua, mumpung  Allah masih memberikan kita waktu untuk segera menyadari kekhilafan-kekhilafan serta kesalahan-kesalahan kita selama ini, mari kita semua bertaubat dengan taubatan Nasuha. Ingatlah umur tidak menjadi halangan untuk bertaubat dan bersegera diri menuju keridlaan Allah Rabbul ‘izzati. Sebaik-baik manusia adalah yang berumur panjang yang selalu mengabdikan diri kepada Allah ‘Azza wajalla.
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
Artinya :
“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Bakrah z, lihat Shahih Al-Jami’ no. 3297)
Hadits memperingtkan kita agar kita selalu melakukan ketaatan dan melakukan amalan kebaikan walaupun umur kita sudah semakin tua. Karena Semakin tua umur seseorang, semakin berkurang kekuatnnya dan melemah fhisiknya hingga kembali kepada keadaan yang serupa dengan anak kecil dalam hal lemahnya tubuh,sedikit akalnya dan tidak adanya pengetahuanya. Demikian pula munculnya pemandangan yang tidak bagus serta tidak mampu melakukan banyak ketaatan. Maka cukuplah seseorang berlindung dari kepikunan kepada Allah, karena Allah telah menamakannya dengan umur yang paling rendah/hina dan mejadi tidak tahu apa-apa yang sebelumnya ia mengetahuinya. Maka nabipun selalu berdo’a dan mengajarkan pada kita dengan do’a yang sama:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ

Artinya : “Wahai Allah aku berlindung kepadamu dari kelemahan, kemalasan, pengecut dan kepikunan”. (HR.Imam Bukhari)

Ketahuilah bahwa selagi manusia masih ada harapan hidup maka tidak akan terputus harapannya untuk mendapatkan dunia. Bahkan terkadang dirinya tidak mau mencabut diri dari kelezatan dan syahwat yang maksiat. Setan pun selalu membisikkan untuk mengakhirkan taubat hingga akhir umurnya. Sehingga bila ia telah yakin akan mati dan tidak ada harapan lagi untuk hidup, barulah ia sadar dari mabuknya akan syahwat dunia. Ia pun menyesali penyia-nyiaan umurnya dengan penyesalan yang hampir membunuh dirinya. Ia meminta dikembalikan ke dunia untuk bertaubat dan beramal shalih. Namun permintaannya tidak digubris, sehingga berkumpullah padanya sakaratul maut dan penyesalan atas sesuatu yang telah lewat.

Allah l telah memperingatkan hamba-Nya akan hal ini, supaya mereka bersiap-siap menghadapi kematian dengan bertaubat dan beramal shalih sebelum datangnya. Allah l berfirman:
                        
وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ. وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ. أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللهِ وَإِنْ كُنْتُ لَـمِنَ السَّاخِرِينَ

“Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah’.” (Az-Zumar: 54-56) [Lihat Latha`iful Ma’arif, Al-Imam Ibnu Rajab t hal. 449-450]

‘Ali bin Abi Thalib z berkata: “Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menyambut, dan bagi masing-masingnya ada anak-anak (pecinta)nya. Maka jadilah kalian termasuk ahli akhirat dan jangan menjadi ahli dunia. Hari ini (kehidupan dunia) adalah tempat beramal bukan hisab, dan besok (kiamat) hanya ada hisab, tidak ada amal.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq Bab Fil Amal Wa Thulihi)

Nabi n bersabda:

لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيْرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ

“Orang yang sudah tua senantiasa berhati muda pada dua perkara: dalam cinta dunia dan panjangnya angan-angan (yakni panjangnya umur).” (HR. Al-Bukhari no. 6420)


Wallahu a’lam.

Semoga akan menjadi motivasi bagi kita semua untuk segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wajalla dan bersegera diri dalam mengejar keridlaannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا 
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اَللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْقُلُوْبَ , قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَي مَحَبَّتِكَ
وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ, وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ
وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ
فَوَثِّقِ اللَّهُمَّ رَابِطَتَهَا, وَأَدِمْ وُدَّهَا، وَاهْدِهَا سُبُلَهَا
وَامْلَأَهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُوْا
وَاشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ الْإِيْمَانِ بِكَ, وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ
وَاَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ، وَأَمِتْهَا عَلَى الشَّهَادَةِ فِيْ سَبِيْلِكَ
إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمِينَ.



عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


By: M.Abdush Saleh

Minggu, 11 Agustus 2019

Meneladani Dakwah dan Pengorbanan Nabi Ibrahaim dan Ismail as


                              

                         اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

                    
اللهُ أَكْبَر, أللهُ أكْبَر, أللهُ أكْبَر، أللهُ أكْبَر، أللهُ أكْبَر، أللهُ أكبَر،أللهُ أكبَر، أللهُ أكْبَر، أللهُ أكْبَرُ،
أللهُ أَكْبَركَبِيْرَاوَالْحَمْدُاللهِ كَشِيْرَاوَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةَ وَأَصِيْلَا لَاإِلَهَ إِلَاالله وَاللهُ أَكْبَرُ، أللهُ أَكْبَر وَالِلهِ الحَمْدُ.
اِنَّ الْحَمْدَللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَاوَمِنْ سَيِّءَـاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُأَنْ لَاإِلَهَ إِلَاّالله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ تَسْلِمًا
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه،ِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
أَمَّا بَعْدُ…
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah ‘azza wajalla atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tak terbilang. Dengan izin dan karunia-Nya semata kita bisa melaksanakan shalat Idul Adha pada tahun 1440 H ini dalam keadaan fisik yang InsyaAllah sehat dan kondisi yang lapang. Semoga nikmat kesehatan, waktu luang, dan kelapangan ini bisa kita syukuri sebaik-baiknya, untuk memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita di hadapan Allah ‘azza wajalla.
Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan untuk suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta segenap keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang sabar menjalankan ajaran agamanya.
 Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Di pagi hari yang mulia ini, kaum muslimin di seluruh dunia melantunkan takbir, tahlil, dan tahmid, demi mengagungkan Allah dan mensyukuri nikmat-Nya. Pada pagi hari ini, takbir, tahlil, dan tahmid dilantunkan oleh jutaan jamaah haji yang sedang melaksanakan manasik di Mina. Kumandang takbir, tahlil, dan tahmid juga dilantunkan oleh milyaran kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, di wilayah pedesaan dan perkotaan, di wilayah pantai dan pegunungan, di wilayah ramai dan pedalaman.
Takbir, tahlil, dan tahmid tidak akan berhenti dengan selesainya shalat Idul Adha. Takbir, tahlil, dan tahmid akan terus dilantunkan oleh seluruh kaum muslimin sampai waktu Ashar tanggal 13 Dzulhijjah esok. Selama hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq esok, gema takbir, tahlil, dan tahmid akan terus berkumandang dari masjid-masjid, jalan-jalan, pasar-pasar, dan rumah-rumah kaum muslimin. Demikianlah sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi sahabat selama hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Ibadah haji, puasa Arafah, shalat Idul Adha, dan udhiyah (yaitu menyembelih hewan ternak tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wajalla pada tanggal 10, 11 12, dan 13 Dzulhijah) kembali menyapa kaum muslimin pada tahun ini. Setiap tahun, keempat ibadah yang istimewa ini hadir di hadapan kaum muslimin. Setiap tahun keempatnya berulang datang.
Pengulangan demi pengulangan tersebut seharusnya meninggalkan bekas yang mendalam bagi keimanan dan ketakwaan kita. Bukan sebaliknya, kehadiran demi kehadirannya menjadikannya peristiwa yang kita anggap biasa saja. Akibatnya, datang dan pergi begitu saja, tanpa ada manfaat bagi dunia dan akhirat kita, tanpa ada maslahat bagi individu kita dan umat kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
 Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Hari raya Idhul Adha adalah momen yang paling tepat merefleksikan kisah-kisah Nabi Ibrahim as. Kekasih Allah dan bapaknya para Nabi. Teladan dalam pengorbanan, teladan dalam dakwah, teladan dalam keteguhan dan teladan dalam ketaatan.
Ketika kita membaca firman Allah SWT yang berbunyi :
اَلَآاِنَّ اَوْلِيَآءَاللهِ لَاخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَاهُمْ يَحْزَنُوْنَ
Artinya, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus 62)
Maka salah satu sosok yang bisa kita teladani sebagai wali Allah yang tidak merasakan khawatir  dan juga tidak bersedih atas apa yang menimpanya di jalan Allah adalah Nabi Ibrahim as.
Nabi Ibrahim adalah pembawa risalah kebenaran satu-satunya pada masa itu. Seluruh kaumnya berbuat syirik kepada Allah, ada yang menyembah bintang-bintang dan ada pula yang menyembah berhala dan bapak Nabi Ibrahim termasuk dari orang yang menyembah berhala.
Dakwah pertama yang dilakukan Nabi Ibrahim as adalah menyeru bapaknya kepada agama tauhid, agar bapaknya mau mengikuti kebenaran yang dibawa oleh Ibrahim as.
Allah SWT mengisahkan dakwah Ibrahim kepada bapaknya.
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا
Artinya, “Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”  (QS Maryam : 42)
Namun ajakan Ibrahim kepada bapaknya untuk bertauhid, menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang disembah, ditaati dan diikuti aturannya berbuah ancaman dan kemarahan dari sang ayah. Allah SWT berfirman:
قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
Artinya, “Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS Maryam : 46)
Meskipun mendapat penolakan dari bapaknya, Ibrahim muda tidak patah arang. Dia terus memberikan argumentasi-argumentasi yang mematikan dan membuat para penyemabah-penyembah berhala itu mati kutu atas argumentasi yang disampaikan oleh Ibrahim.
Dan puncak dari itu semua adalah ketika Ibrahim as dengan gagah berani menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya dan menyisakan berhala yang paling besar serta mengalungkan kapak kepada berhala yang paling besa itur. Nabi Ibrahim memahami betul resiko yang dia hadapi atas perbuatannya. Kemurkaan serta kemarahan dari kaumnya tidak akan terhindarkan. Akan tetapi Nabi Ibrahim tetap melakukan hal tersebut untuk memberikan pesan yang jelas dan nyata kepada kaumnya bahwa peribadatan kepada patung-patung yang mereka lakukan adalah suatu kebatilan dan prilaku yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia.Namun fanatisme buta kaumnya terhadap sesembahan mereka membuat nalar mereka mati, akal tidak lagi berpikir secara logis dan rasional. Dan akhirnya Dakwah Ibrahim ini berujung pada penyiksaan dengan pembakaran.
Allahu 3x walillahilhamdu
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Bisa kita bayangkan bagaimana mencekamnya kondisi yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim ketika itu, ketika seluruh manusia memusuhinya, ketika kaumnya mempersekusinya dan tidak ada yang berpihak kepadanya seorangpun.Mereka bersiap membakar nabi Ibrahim, kayu-kayu dikumpulkan, menara sebagai tempat pembakaran dipersiapkan, lubang yang dalam di bawah menara juga digali. bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa tidaklah burung terbang di atas kobaran api tersebut melainkan akan mati terpanggang.
Prosesi pembakaran sang kekasih Allah dimulai. Ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, maka semua makhluk Allah, bumi, langit dan para malaikat memohon kepada Allah.
يَا رَبِّ ، خَلِيلُكَ يُلْقَى فِي النَّارِ ، فَأْذَنْ لَنَا نُطْفِئْ عَنْهُ ، قَالَ : هُوَ خَلِيلِي ، لَيْسَ لِي فِي الأَرْضِ خَلِيلٌ غَيْرُهُ ، وَأَنَا رَبُّهُ ، لَيْسَ لَهُ رَبٌّ غَيْرِي ، فَإِنِ اسْتَغَاثَ بِكُمْ فَأَغِيثُوهُ ، وَإِلا فَدَعُوهُ
Artinya, “Wahai Rabbku, kekasih-Mu dilemparkan ke dalam api, maka izinkan kami untuk membantu memadamkan api untuknya. Allah menjawab, “Dia adalah kekasih-Ku dan tidak ada di bumi (pada waktu itu) kekasih-Ku selain dirinya dan Saya adalah Rabb-nya dan tidak ada Rabb yang ia miliki selain Diriku. Jika dia meminta tolong kepada kalian, maka bantulah dia, namun jika tidak maka biarkan saja dia.” (HR Ahmad)
Ada sebuah momen menarik yang diceritakan oleh Ibnu Jarir Ath-Thobari ketika Nabi Ibrahim dibakar, penghulu malaikat Jibril as, terlihat menampakkan wujudnya di hadapan Nabi Ibrahim. Jibril bertanya kepada Ibrahim:
يَا إِبْرَاهيم أَلَكَ حَاجَةٌ؟ قال: أمَّا إِلَيْكَ فَلَا أَمّا إلى الله فَنَعَمْ
Artinya, Wahai Ibrahim, apakah kamu membutuhkanku? Ibrahim menjawab, “Kepadamu wahai Jibril, maka saya tidak membutuhkannya, adapun kepad Allah, maka sudah pasti saya membutuhkannya.”
masyaAllah Sebuah jawaban yang menggambarkan kuat dan kokohnya pemahaman Ibrahim terhadap Allah yang menjadi tempat bergantung. Nabi Ibrahim tidak ingin bersandar kepada selain Allah, Nabi Ibrahim tahu betul bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang mampu menolongnya. Inilah puncak tawakkal, inilah puncak iman dan inilah puncak penghambaan kepada Allah. Meskipun jika sebenarnya  Ibrahim mengiyakan tawaran Jibril, hal itu tidaklah mengapa, karena Jibril tidaklah mampu menolong Ibrahim kecuali atas izin dari Allah. Akan tetapi Nabi Ibrahim menginginkan tempat yang mulia di sisi Allah.
Inilah wali Allah, persekusi manusia, kobaran api yang tinggi, kemarahan penguasa tidak menyurutkan langkah beliau untuk tetap teguh di jalan Allah, sama sekali tidak bergeser, tiada ketakutan pada diri Nabi Ibrahim, karena beliau yakin Allah bersamanya.
Bahkan momen ini menjadi momen terbaik dalam hidup Nabi Ibrahim, momen yang dalam pandangan manusia adalah momen yang menakutkan, namun bagi Nabi Ibrahim ini adalah momen terindah di dalam hidupnya. Momen di mana beliau merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Allah, momen ketika beliau berada di puncak keyakinan terhadap Allah.
Hal ini tergambar dalam ungkapan Nabi Ibrahim, beliau berkata:
مَا كُنْتُ أَيّامًا قَطّ أَنْعَمُ مِنّي مِنَ الأَيّامِ الّتِي كُنْتُ فِيهَا فِي النّارِ
Artinya, “Tidak pernah saya melewati hari-hari yang paling indah (dalam hidup saya) melebihi hari di mana saya dibakar oleh api.”
Allahu Akbar3x Wallillahilhamd
Jamaah Shalat dan khutbah idul adha yang dirahmati Allah
itulah sedikit gambaran tentang dakwahnya nabi Ibrahim dikala muda, namun setelah ia beristeri dan menjalankan bhatera rumah tangga, ujianpun selalu dialaminya, dimana pada waktu nabi Ibrahim hampir berusia senja mereka belum juga mendapatkan keturunan, namun atas kesabaran dan do’a nabi Ibrahim dan Siti Hajar, akhirnya mereka mendapatkan seorang keturunan yaitu Ismail. Sungguh ironis dan sangat tidak masuk akal menurut pandangan kita dewasa ini, anak yang semata wayang belahan hati pengarang jantung, ketika Ismail beranjak Remaja, tiba-tiba Nabi Ibrahim as mendapat perintah dari Allah ‘Azza wajalla melalui mimpinya selama tiga kali untuk menyembelih anaknya yang semata wayang itu. Karena nabi Ibrahim as yakin bahwa itu adalah perintah Allah ‘Azza wajalla, maka mimpinya tersebut disampaikanlah kepada anaknya Ismail seperti yang diceritakan didalam Alquran sbb:
Maka tatkalah anak itu sampai (pada umur yg sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimipiku bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu’. Maka Ismailpun menjawab: “Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar”.
Sungguh suatu pelajaran yang sempurna dari Allah Ta’ala, Semoga seluruh anggota keluarga muslim mampu memetik pelajaran yang indah dan hebat dari keluarga nabi Ibrahim as ini, kita yang menjadi Ayah semoga bisa menjadi ayah yang demokratis adil dan bijaksana sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ibrahim as yang mengajak anaknya bermusyawarah untuk melaksanakan perintah besar dari Allah swt dan para wanita yang ditakdirkan Allah menjadi ibu, semoga mampu meneladani Siti Hajar, profil ibu rumah tangga yang mendukung, membantu dan mendo’akan suami dalam mentaati perintah Allah. Dan yang saat ini masih anak-anak, remaja, semoga bisa meniru kesalehan Ismail yang dengan keimanan yang menancap kelubuk hati dan ketaqwaannya yang tinggi menjadikan ia sabar dan ikhlas untuk berbakti pada orang tuanya sekalipun ia harus “dikorbankan” oleh ayahnya sendiri demi mengikuti perintah Allah. insyaAllah dengan demikian kita semua akan menjadi keluarga yang kuat dan hebat.
Allahu Akbar3x walillahilhamd

Jamaah Shalat dan khutbah idul adha Rahimahkumullah
Karena keikhlasan dan ketaqwaan yang betul-betul dari keluarga nabi Ibrahim ini, akhirnya Allah subhanahu wata’ala mengganti nabi Ismail as dengan dengan tebusan sembelihan yang besar, seekor kambing yang besar yang dibawa dari surge oleh malaikat jibril. Malaikat jibril bertakbir (Allahu Akbar3x) diteruskan oleh nabi Ibrahim membaca (Laillaha illallahu Allahu Akbar) diakhiri oleh nabi Ismail dengan membaca (Allahu Akbar Wallillahilhamd).
Maka dengan kisah Dakwah dan pengorbanan pada keluarga Ibrahim ini insyAllah kita akan dapat menjadi manusia-manusia yang tangguh, pengorbanan yang diperintahkan kepada nabi Ibrahim dan Ismail ini tidak akan adalagi dan mustahil terjadi  pada masa sekarang ini, namun pengorbanan-pengorbanan yang ditunjukan pada Nabi dan Wali Allah ini adalah pengorbanan yang sangat tinggi, maka untuk kita sebagai muslim diakhir jaman ini pengorbanan yang dituntut untuk kita lakukan saat ini adalah pengorbanan waktu untuk selalu menuntut ilmu agama baik kaum remaja kita maupun kita yang sudah dewasa ataupun tua, pengurbanan waktu dan tenaga bagi kita semua untuk selalu melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintahkan kepada, pengurbanan perasaan bagi kaum Hawa yang dituntut agar selalu berbusana sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wajalla dan juga pengurbanan yang tak kalah pentingnya adalah pengurbanan harta benda, baik untuk bersedekah, infak dan terutama Zakat mal dan fitrah serta pengurbanan dengan menyembelih hewan tertentu yang saat ini banyak dilakukan oleh umat Islam diberbagai belahan dunia ini. karena memang Dari kisah inilah akhirnya kurban dijadikan suatu yang disyari’atkan dalam agama kita ini. Bahkan nabi bersabda “janganlah dekat ketempat shalat kami bagi orang-orang yang mampu tetapi tidak mau berkurban”
Ini menunjukan betapa pentingnya kurban tersebut.
Semoga dengan mengambil teladan dari kekasih Allah Nabi Ibrahim, kita terinspirasi untuk menjadi hamba Allah yang hati, lisan dan perbuatannya selalu terikat dengan Allah. Sehingga apapun yang menimpa kita di dunia karena berpegang teguh kepada agama Allah tidak membuat kita bersedih hati dan khawatir karena kita bersama Dzat yang Maha Agung, kita bersama Dzat yang Maha Besar. Maka tidak ada cara bagi kita untuk mendapatkan ketengangan melainkan dengan mengisi kekosongan hati dan pikiran kita dengan selalu bergantung kepada Allah SWt.
Dan akhirnya Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِينَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ المُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته