Rabu, 14 Agustus 2019

Ketika ajal kian mendekat

Khutbah Pertama
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
         يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ        
اللّهُمَّ عَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَانْفَعَنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَزِدْنَا عِلْماً، وَأَرَنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرَنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Kaum muslimin rahimahkumullah

Marilah kita sealalu bersukur atas segala apa yang telah Allah diberikan pada kita semua, baik kesehatan, kesempatan ataupun yang paling tinggi dari semua itu adalah iman. Sehingga ia telah mampu mengantarkan kita ketempat yang mulia ini untuk melaksanakan kewajiban kita pada setiap hari jumat. Shalawat dan salam hendaklah selalu tercurah kepada huswatun kita Nabi Muhamad saw, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan umatnya yang selalu sabar dalam mengikuti sunnah-sunnahnya. Dan juga yang tak kalah pentingnya sy mengajak kita semua untuk selalu bertaqwa kepada Allah ‘Azza wajalla, agar kita selalu melakukan kebaikan-kebaikan dan beribadah padanya sesuai dengan tuntunannya dan tuntunan Rasulnya.
Kaum msulimin yang insyaAllah selalu dirahmati Allah
Adpun tema khutbah kita siang ini adalah : “KETIKA AJAL KIAN MENDEKAT

Bila kita merenungi tentang perjalanan kehidupan anak manusia dimuka bumi ini, maka otomatis kita akan sadar bahwa sesungguhnya tidak ada lagi orang-orang yang dekat dengan kita pada saat ini yang masih berumur sampai ratusan tahun, jangankan ratusan tahun, diusia 90 an tahun saja sudah termasuk barang yang langkah. Yang masih banyak kita temui dan kita lihat saat ini umur umat nabi Muhamad ini adalah kisaran umur 60-80 tahunan. Dan bila kita memperhatikan orang-orang tua yang sudah berumur 70-80 tahunan saat ini itupun sudah Nampak rentah dan sudah tidak mampu lagi melakukan aktivitas selayaknya ketika mereka masih berusia 50-60 tahunan. Kalau kita simak ayat Alquran yang berbunyi :

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya : “Katakanlah’ Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Jumu’ah :8)

Dan Hadits nabi yang berbunyi :

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Artinya : “Umur-umur umatku antara 60-70 tahun dan sedikit dari mereka yang melebihi itu”. (HR.Tirmizi) (Dihasankan Sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam Fahtul Bahri, 11/240

Bila kita menyimak dan merenungkan ayat Alquran dan hadits diatas, kita memahami betul bahwa tidak ada seorangpun dari kita manusia ini yang akan dapat menghindarkan diri dari kematian dan sesungguhnya kitapun akan dikembalikan kepada Allah sang pencipta manusia itu sendiri. Dan didalam hadits diatas Rasulullah saw telah memberikan isyarat bahwa umat beliau hanya akan hidup kisaran umur 60 tahunan sampai 70 tahunan dan tidka akan banyak yang akan lebih dari itu. Jadi bila kita renungi dengan baik wajar saja saat ini bila sudah sedikit yang berumur sampai seratus tahun dan bahkan diumur 70 dan 80 tahunan saja sudah banyak dari umat nabi muhamad diakhir jaman ini yang sudah mulai Nampak rentah dan pikun.

Kaum muslimin rahimahkumullah

Dalam kesempatan yang mulia saya ingin menukil sebuah tulisan dari seorang anak bangsa yang sangat terkenal dinegara kita dan bahkan didunia, karena kemampuanya dalam bidang technologi yaitu Prof Dr Ing BJ Habibie yang merupakan pesan bagi kita semua. Dalam tulisannya beliau berpesan “Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology, sehingga sya mampu membuat pesawat terbang. Tapi sekarang saya menyadari dan mengetahui bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat bagi umat. Dan bila saat ini sy disuruh memilih keduanya maka sy akan memilih ilmu agama”.
Itulah pesan pertama beliau dalam Tulisannya. Kemudian beliau menceritakan bagaimana tentang hari-harinya setelah ia ditinggalkan isterinya, beliau berkisah “kehidupan dirumahnya terasa sunyi, isteri sudah meninggal, tangan sudah menggigil karena sudah lemah, penyakit telah menggerogoti sejak lama, duduk tak enak berjalanpun tak nyaman.. untunglah ada seorang kerabat jauh mau menemani bersama seorang pembantu…tiga anak semuanya sudah sukses…. Berpendidikan tinggi sampai keluar negeri, ada yang berkarier diluar negeri, ada yang jadi pengusaha dan ada pula yang bekerja diperusahan asing dengan posisi tinggi. Persoalan ekonomi saya angkat jempol kepada mereka (Anak-anaknya-pen) semuanya kaya Raya……. Namun sambungnya, saat tua seperti ini dia merasa hampa ada pilu mendesak disusdut hatinya, tidurpun tak nyaman, dia berjalan memandangi fhoto-fhoto masa lalunya ketika ia masih perkasa dan energik yang penuh dengan kenangan. Dirumah yang besar dia merasa kesepian tiada suara tangis dan tawa anak dan cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur…. Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya  dan dari sudut matanya ada air yang menetes rindu akan kunjungan anak dan cucu-cucunya. Tapi semua anaknya sibuk semuanya tinggal dikota atau negeri lain. Ingin pergi ketempat ibadah, namun badan tak mampu berjalan… sudah terlanjur melemah… begitu lama waktu ini bergerak, tatapanya hampa, jiwanya kosong hanya gelisah yang menyeruak sepanjang waktu.
Laki-laki renta itu barang kali adalah saya atau mungkin anda yang sedang membaca tulisan ini suatu saat nanti. Kita hanyalah menunggu sesuatu yang tidak pasti dan yang pasti hanyalah kematian. Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya. anak yang sukses tidak mampu lagi menyejukan rumah mewahnya yang ber AC. Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang. Asset-aset produktif yang selalu menghasilkan, entah untuk siapa?. Kira-kira jika malaikat pencabut nyawa datang menjemput, akan seperti apakah kematianya nanti?. Siapa yang akan memandikan? Dimana akan dikuburkan? Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang untuk mengurus jenazah dan menguburkan?
Apa amal yang akan dibawa keakhirat nanti? Rumah akan ditinggal asset juga akan ditinggal pula. Anak-anak entah apakah akan ingat berdo’a untuk kita atau tidak??? Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan??? Apalagi jika anak tak sempat dididik sesuai dengan tuntunan agama??? Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja.
"Kalau lah sempat" menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah yang lainnya...
"Kalau lah sempat" dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang......
"Kalau lah sempat" memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan.....
"Kalau lah sempat" membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan...
Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi "Amal Penolong" nya ...
Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan
Ibadah sedekahnya di bimbing/diajarkan & diperhatikan, maka mungkin ia senantiasa akan 'Terbangun Malam hari', 'meneteskan air mata' mendoakan kedua orang tuanya.
Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama...
"KALAULAH SEMPAT"
Mengapa kalau sempat ?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius?
Menyiapkan 'bekal' untuk menghadap-Nya dan 'Mempertanggung Jawabkan kepadaNya?
Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang bisa melalaikan.....
Kita boleh saja giat berusaha di dunia....tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang & kekal di akhir hidup kita.
Teruslah menjadi "si penabur kebajikan" selama hayat masih dikandung badan meski hanya sepotong pesan.
Semoga Bermanfaat...🙏
Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie
Kaum muslimin rahimahkumullah
Itulah sedikit tulisan Bj Habibie sebagai pesan dan nasehat kepada kita semua, agar kita semua jangan menyesal setelah hari tua nanti, makna yang mendalam yang beliau sampaikan adalah agar kita semua mau belajar ilmu agama, karena dengan agamalah hidup kita akan mulia dan dengan agamlah kita akan bahagia, tiada ada kebahagiaan dengan harta yang melimpah dan anak yang sukses tapi hanya dalam urusan dunia, maka didiklah anak-anak kita dengan ilmu agama yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunnah. Karena tanpa ilmu agama hidup akan menjadi hampa masa tua akan menjadi penyesalan bagi kita semua, mumpung  Allah masih memberikan kita waktu untuk segera menyadari kekhilafan-kekhilafan serta kesalahan-kesalahan kita selama ini, mari kita semua bertaubat dengan taubatan Nasuha. Ingatlah umur tidak menjadi halangan untuk bertaubat dan bersegera diri menuju keridlaan Allah Rabbul ‘izzati. Sebaik-baik manusia adalah yang berumur panjang yang selalu mengabdikan diri kepada Allah ‘Azza wajalla.
خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
Artinya :
“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jelek manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Bakrah z, lihat Shahih Al-Jami’ no. 3297)
Hadits memperingtkan kita agar kita selalu melakukan ketaatan dan melakukan amalan kebaikan walaupun umur kita sudah semakin tua. Karena Semakin tua umur seseorang, semakin berkurang kekuatnnya dan melemah fhisiknya hingga kembali kepada keadaan yang serupa dengan anak kecil dalam hal lemahnya tubuh,sedikit akalnya dan tidak adanya pengetahuanya. Demikian pula munculnya pemandangan yang tidak bagus serta tidak mampu melakukan banyak ketaatan. Maka cukuplah seseorang berlindung dari kepikunan kepada Allah, karena Allah telah menamakannya dengan umur yang paling rendah/hina dan mejadi tidak tahu apa-apa yang sebelumnya ia mengetahuinya. Maka nabipun selalu berdo’a dan mengajarkan pada kita dengan do’a yang sama:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ

Artinya : “Wahai Allah aku berlindung kepadamu dari kelemahan, kemalasan, pengecut dan kepikunan”. (HR.Imam Bukhari)

Ketahuilah bahwa selagi manusia masih ada harapan hidup maka tidak akan terputus harapannya untuk mendapatkan dunia. Bahkan terkadang dirinya tidak mau mencabut diri dari kelezatan dan syahwat yang maksiat. Setan pun selalu membisikkan untuk mengakhirkan taubat hingga akhir umurnya. Sehingga bila ia telah yakin akan mati dan tidak ada harapan lagi untuk hidup, barulah ia sadar dari mabuknya akan syahwat dunia. Ia pun menyesali penyia-nyiaan umurnya dengan penyesalan yang hampir membunuh dirinya. Ia meminta dikembalikan ke dunia untuk bertaubat dan beramal shalih. Namun permintaannya tidak digubris, sehingga berkumpullah padanya sakaratul maut dan penyesalan atas sesuatu yang telah lewat.

Allah l telah memperingatkan hamba-Nya akan hal ini, supaya mereka bersiap-siap menghadapi kematian dengan bertaubat dan beramal shalih sebelum datangnya. Allah l berfirman:
                        
وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ. وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ. أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللهِ وَإِنْ كُنْتُ لَـمِنَ السَّاخِرِينَ

“Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah’.” (Az-Zumar: 54-56) [Lihat Latha`iful Ma’arif, Al-Imam Ibnu Rajab t hal. 449-450]

‘Ali bin Abi Thalib z berkata: “Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menyambut, dan bagi masing-masingnya ada anak-anak (pecinta)nya. Maka jadilah kalian termasuk ahli akhirat dan jangan menjadi ahli dunia. Hari ini (kehidupan dunia) adalah tempat beramal bukan hisab, dan besok (kiamat) hanya ada hisab, tidak ada amal.” (Lihat Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq Bab Fil Amal Wa Thulihi)

Nabi n bersabda:

لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيْرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ

“Orang yang sudah tua senantiasa berhati muda pada dua perkara: dalam cinta dunia dan panjangnya angan-angan (yakni panjangnya umur).” (HR. Al-Bukhari no. 6420)


Wallahu a’lam.

Semoga akan menjadi motivasi bagi kita semua untuk segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wajalla dan bersegera diri dalam mengejar keridlaannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْـمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا 
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اَللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْقُلُوْبَ , قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَي مَحَبَّتِكَ
وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ, وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ
وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ
فَوَثِّقِ اللَّهُمَّ رَابِطَتَهَا, وَأَدِمْ وُدَّهَا، وَاهْدِهَا سُبُلَهَا
وَامْلَأَهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُوْا
وَاشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ الْإِيْمَانِ بِكَ, وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ
وَاَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ، وَأَمِتْهَا عَلَى الشَّهَادَةِ فِيْ سَبِيْلِكَ
إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمِينَ.



عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


By: M.Abdush Saleh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar