Minggu, 11 Agustus 2019

HADIAH AMALAN

HADIAH AMALAN

ADA BANYAK PERTANYAAN DAN PERDEBATAN TENTANG HADIAH AMALAN KEPADA SIMAYIT, APAKAH HADIAH AMALAN-AMALAN TERSEBUT NYAMPEI KEPADA SIMAYIT ATAU TIDAK, HAL INI MASIH SELALU JADI PERDEBATAN DIANTARA TOKOH-TOKOH DARI KELOMPOK MEREKA MASING-MASING




Bila kita berbicara tentang hadiah amalan kepada orang yang sudah meninggal dunia, maka akan kita dapatkan berbagai pertanyaan-pertanyaan dan bahkan perdebatan-perdebatan yang tak kunjung selesai, mereka dengan piawainya mengeluarkan argumen-argumen mereka masing-masing dengan berbagai dalih dan alasan yang terkadang terkesan dibuat-buat agar pendapat mereka mendapatkan pembenaran dan kebenaran.

Kalau kita mau berfikir dengan akal sehat dan dengan logika yang sangat sederhana, dengan merujuk keberbagai dalil Alquran dan sunnah Rasul, maka Orang yang sudah mati itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi dan tidak akan mendapatkan pahala apa-apa lagi kecuali dari hasil perbuatanya sewaktu hidup di dunia dahulu.

Misalnya, ia peroleh pahala dari amal jariahnya, maka sudah barang tentu sewaktu hidup didunia dahulu ia telah banyak bersedeqah, berinfaq atau pun mewakapkan harta bendanya dijalan Allah, maka wajarlah kalau ia menerima amal atau pahala dari hasil jerih payahnya ini walau ia tinggal tulang belulangnya lagi.

Bila ia mendapatkan pahala dari ilmu yang ada padanya, maka sudah barang tentu orang itu telah mengamalkan ilmunya dan sekaligus mengajarkanya kepada orang lain, sehingga orang tersebut memperoleh manfaat dari ilmu yang diajarkannya itu, dan sangat masuk akal kalau ia mendapat pahala dari usaha jerih payahnya yang telah mencerdaskan orang lain itu.

Dan bila seseorang mendapatkan pahala atau pun ampunan dari do,a anak yang Saleh, karena ia selalu mendo'akan kedua orang tuanya, maka sangatlah wajar, karena disamping dia anak kandungnya ia juga mendidik dan membina dengan segala upaya agar anak tersebut menjadi anak yang Saleh, sehingga dengan kesalehannya itu ia selalu mendo'akan ibu bapaknya.

Jadi jelaslah bahwa yang mengalirkan pahala atau pun ampunan bagi orang yang sudah meninggal dunia itu adalah hasil jerih payahnya sewaktu ia hidup didunia ini, bukan hasil dari kiriman saudara-saudaranya yang sering berkirim amalan bacaan ayat-ayat suci Alquran.

Dan yang patut kita pertanyakan tentang berkirim Amalan dari bacaan-bacaan ayat-ayat atau surat-surat dari Alquran itu adalah,

- Apakah kita yakin kalau setiap kita membaca Alquran itu pasti akan diberi pahala oleh Allah...? atau apakah mungkin tidak sebaliknya.....!!!???

Apakah kita yakin orang yang kita kirimi pahala tersebut pahalanya lebih sedikit atau pahalanya jauh dibawa kita yang mengirimi, atau jangan-jangan orang yang kita kirimi ini adalah orang yang pahalanya sudah sangat banyak dan bahkan mungkin dia yang akan dapat memberikan syafaat bagi sipengirim...???

- Kemudian Seandainya pahala atau hadiah amalan itu memang diterima oleh simayit, maka saya yakin tidak akan ada satupun dari orang-orang kaya zaman dahulu hingga akhir zaman nanti yang akan masuk neraka, karena mereka akan mudah dan gampang mengundang orang sebanyak-banyaknya setiap malam jumat atau bahkan mungkin setiap malam untuk melakukan ritual-ritual selamatan dan kiriman amalan kepada para ibu bapak, kakek nenek, buyut-buyut dan para leluhur mereka.

Kita semua pasti berharap agar semua orang-orang dekat dengan kita atau semua umat Islam dari dahulu sampai akhir jaman, semuanya masuk kedalam surga. Tapi sangat tidaklah pantas kita sebagai hambah Allah yang lemah, yang penuh berlumur dosa dengan semenah-menah mendikte Allah Subbhanhu wata'aala agar menyampaikan kiriman-kiriman kita kepada para mayit-mayit kita yang telah mendahului kita, terlebih lagi kadang kita tidak mengetahui tentang jati diri simayit tersebut, apakah dia benar-benar Islam atau hanya berpura-pura Islam atau barang kali hanya KTP nya Doang yang Islam......

Semoga ulasan yang singkat ini dapat mencerahkan kita semua Amiiin.......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar