Minggu, 11 Agustus 2019

Meneladani Dakwah dan Pengorbanan Nabi Ibrahaim dan Ismail as


                              

                         اَلسَلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

                    
اللهُ أَكْبَر, أللهُ أكْبَر, أللهُ أكْبَر، أللهُ أكْبَر، أللهُ أكْبَر، أللهُ أكبَر،أللهُ أكبَر، أللهُ أكْبَر، أللهُ أكْبَرُ،
أللهُ أَكْبَركَبِيْرَاوَالْحَمْدُاللهِ كَشِيْرَاوَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةَ وَأَصِيْلَا لَاإِلَهَ إِلَاالله وَاللهُ أَكْبَرُ، أللهُ أَكْبَر وَالِلهِ الحَمْدُ.
اِنَّ الْحَمْدَللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَاوَمِنْ سَيِّءَـاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُأَنْ لَاإِلَهَ إِلَاّالله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ تَسْلِمًا
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه،ِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
أَمَّا بَعْدُ…
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah ‘azza wajalla atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tak terbilang. Dengan izin dan karunia-Nya semata kita bisa melaksanakan shalat Idul Adha pada tahun 1440 H ini dalam keadaan fisik yang InsyaAllah sehat dan kondisi yang lapang. Semoga nikmat kesehatan, waktu luang, dan kelapangan ini bisa kita syukuri sebaik-baiknya, untuk memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita di hadapan Allah ‘azza wajalla.
Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan untuk suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta segenap keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang sabar menjalankan ajaran agamanya.
 Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Di pagi hari yang mulia ini, kaum muslimin di seluruh dunia melantunkan takbir, tahlil, dan tahmid, demi mengagungkan Allah dan mensyukuri nikmat-Nya. Pada pagi hari ini, takbir, tahlil, dan tahmid dilantunkan oleh jutaan jamaah haji yang sedang melaksanakan manasik di Mina. Kumandang takbir, tahlil, dan tahmid juga dilantunkan oleh milyaran kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, di wilayah pedesaan dan perkotaan, di wilayah pantai dan pegunungan, di wilayah ramai dan pedalaman.
Takbir, tahlil, dan tahmid tidak akan berhenti dengan selesainya shalat Idul Adha. Takbir, tahlil, dan tahmid akan terus dilantunkan oleh seluruh kaum muslimin sampai waktu Ashar tanggal 13 Dzulhijjah esok. Selama hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq esok, gema takbir, tahlil, dan tahmid akan terus berkumandang dari masjid-masjid, jalan-jalan, pasar-pasar, dan rumah-rumah kaum muslimin. Demikianlah sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi sahabat selama hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Ibadah haji, puasa Arafah, shalat Idul Adha, dan udhiyah (yaitu menyembelih hewan ternak tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wajalla pada tanggal 10, 11 12, dan 13 Dzulhijah) kembali menyapa kaum muslimin pada tahun ini. Setiap tahun, keempat ibadah yang istimewa ini hadir di hadapan kaum muslimin. Setiap tahun keempatnya berulang datang.
Pengulangan demi pengulangan tersebut seharusnya meninggalkan bekas yang mendalam bagi keimanan dan ketakwaan kita. Bukan sebaliknya, kehadiran demi kehadirannya menjadikannya peristiwa yang kita anggap biasa saja. Akibatnya, datang dan pergi begitu saja, tanpa ada manfaat bagi dunia dan akhirat kita, tanpa ada maslahat bagi individu kita dan umat kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil hamdu….
 Jamaah Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Hari raya Idhul Adha adalah momen yang paling tepat merefleksikan kisah-kisah Nabi Ibrahim as. Kekasih Allah dan bapaknya para Nabi. Teladan dalam pengorbanan, teladan dalam dakwah, teladan dalam keteguhan dan teladan dalam ketaatan.
Ketika kita membaca firman Allah SWT yang berbunyi :
اَلَآاِنَّ اَوْلِيَآءَاللهِ لَاخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَاهُمْ يَحْزَنُوْنَ
Artinya, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus 62)
Maka salah satu sosok yang bisa kita teladani sebagai wali Allah yang tidak merasakan khawatir  dan juga tidak bersedih atas apa yang menimpanya di jalan Allah adalah Nabi Ibrahim as.
Nabi Ibrahim adalah pembawa risalah kebenaran satu-satunya pada masa itu. Seluruh kaumnya berbuat syirik kepada Allah, ada yang menyembah bintang-bintang dan ada pula yang menyembah berhala dan bapak Nabi Ibrahim termasuk dari orang yang menyembah berhala.
Dakwah pertama yang dilakukan Nabi Ibrahim as adalah menyeru bapaknya kepada agama tauhid, agar bapaknya mau mengikuti kebenaran yang dibawa oleh Ibrahim as.
Allah SWT mengisahkan dakwah Ibrahim kepada bapaknya.
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا
Artinya, “Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?”  (QS Maryam : 42)
Namun ajakan Ibrahim kepada bapaknya untuk bertauhid, menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang disembah, ditaati dan diikuti aturannya berbuah ancaman dan kemarahan dari sang ayah. Allah SWT berfirman:
قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
Artinya, “Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS Maryam : 46)
Meskipun mendapat penolakan dari bapaknya, Ibrahim muda tidak patah arang. Dia terus memberikan argumentasi-argumentasi yang mematikan dan membuat para penyemabah-penyembah berhala itu mati kutu atas argumentasi yang disampaikan oleh Ibrahim.
Dan puncak dari itu semua adalah ketika Ibrahim as dengan gagah berani menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya dan menyisakan berhala yang paling besar serta mengalungkan kapak kepada berhala yang paling besa itur. Nabi Ibrahim memahami betul resiko yang dia hadapi atas perbuatannya. Kemurkaan serta kemarahan dari kaumnya tidak akan terhindarkan. Akan tetapi Nabi Ibrahim tetap melakukan hal tersebut untuk memberikan pesan yang jelas dan nyata kepada kaumnya bahwa peribadatan kepada patung-patung yang mereka lakukan adalah suatu kebatilan dan prilaku yang tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia.Namun fanatisme buta kaumnya terhadap sesembahan mereka membuat nalar mereka mati, akal tidak lagi berpikir secara logis dan rasional. Dan akhirnya Dakwah Ibrahim ini berujung pada penyiksaan dengan pembakaran.
Allahu 3x walillahilhamdu
Kaum Muslimin yang dirahmati Allah
Bisa kita bayangkan bagaimana mencekamnya kondisi yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim ketika itu, ketika seluruh manusia memusuhinya, ketika kaumnya mempersekusinya dan tidak ada yang berpihak kepadanya seorangpun.Mereka bersiap membakar nabi Ibrahim, kayu-kayu dikumpulkan, menara sebagai tempat pembakaran dipersiapkan, lubang yang dalam di bawah menara juga digali. bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa tidaklah burung terbang di atas kobaran api tersebut melainkan akan mati terpanggang.
Prosesi pembakaran sang kekasih Allah dimulai. Ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, maka semua makhluk Allah, bumi, langit dan para malaikat memohon kepada Allah.
يَا رَبِّ ، خَلِيلُكَ يُلْقَى فِي النَّارِ ، فَأْذَنْ لَنَا نُطْفِئْ عَنْهُ ، قَالَ : هُوَ خَلِيلِي ، لَيْسَ لِي فِي الأَرْضِ خَلِيلٌ غَيْرُهُ ، وَأَنَا رَبُّهُ ، لَيْسَ لَهُ رَبٌّ غَيْرِي ، فَإِنِ اسْتَغَاثَ بِكُمْ فَأَغِيثُوهُ ، وَإِلا فَدَعُوهُ
Artinya, “Wahai Rabbku, kekasih-Mu dilemparkan ke dalam api, maka izinkan kami untuk membantu memadamkan api untuknya. Allah menjawab, “Dia adalah kekasih-Ku dan tidak ada di bumi (pada waktu itu) kekasih-Ku selain dirinya dan Saya adalah Rabb-nya dan tidak ada Rabb yang ia miliki selain Diriku. Jika dia meminta tolong kepada kalian, maka bantulah dia, namun jika tidak maka biarkan saja dia.” (HR Ahmad)
Ada sebuah momen menarik yang diceritakan oleh Ibnu Jarir Ath-Thobari ketika Nabi Ibrahim dibakar, penghulu malaikat Jibril as, terlihat menampakkan wujudnya di hadapan Nabi Ibrahim. Jibril bertanya kepada Ibrahim:
يَا إِبْرَاهيم أَلَكَ حَاجَةٌ؟ قال: أمَّا إِلَيْكَ فَلَا أَمّا إلى الله فَنَعَمْ
Artinya, Wahai Ibrahim, apakah kamu membutuhkanku? Ibrahim menjawab, “Kepadamu wahai Jibril, maka saya tidak membutuhkannya, adapun kepad Allah, maka sudah pasti saya membutuhkannya.”
masyaAllah Sebuah jawaban yang menggambarkan kuat dan kokohnya pemahaman Ibrahim terhadap Allah yang menjadi tempat bergantung. Nabi Ibrahim tidak ingin bersandar kepada selain Allah, Nabi Ibrahim tahu betul bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang mampu menolongnya. Inilah puncak tawakkal, inilah puncak iman dan inilah puncak penghambaan kepada Allah. Meskipun jika sebenarnya  Ibrahim mengiyakan tawaran Jibril, hal itu tidaklah mengapa, karena Jibril tidaklah mampu menolong Ibrahim kecuali atas izin dari Allah. Akan tetapi Nabi Ibrahim menginginkan tempat yang mulia di sisi Allah.
Inilah wali Allah, persekusi manusia, kobaran api yang tinggi, kemarahan penguasa tidak menyurutkan langkah beliau untuk tetap teguh di jalan Allah, sama sekali tidak bergeser, tiada ketakutan pada diri Nabi Ibrahim, karena beliau yakin Allah bersamanya.
Bahkan momen ini menjadi momen terbaik dalam hidup Nabi Ibrahim, momen yang dalam pandangan manusia adalah momen yang menakutkan, namun bagi Nabi Ibrahim ini adalah momen terindah di dalam hidupnya. Momen di mana beliau merasakan kedekatan yang luar biasa dengan Allah, momen ketika beliau berada di puncak keyakinan terhadap Allah.
Hal ini tergambar dalam ungkapan Nabi Ibrahim, beliau berkata:
مَا كُنْتُ أَيّامًا قَطّ أَنْعَمُ مِنّي مِنَ الأَيّامِ الّتِي كُنْتُ فِيهَا فِي النّارِ
Artinya, “Tidak pernah saya melewati hari-hari yang paling indah (dalam hidup saya) melebihi hari di mana saya dibakar oleh api.”
Allahu Akbar3x Wallillahilhamd
Jamaah Shalat dan khutbah idul adha yang dirahmati Allah
itulah sedikit gambaran tentang dakwahnya nabi Ibrahim dikala muda, namun setelah ia beristeri dan menjalankan bhatera rumah tangga, ujianpun selalu dialaminya, dimana pada waktu nabi Ibrahim hampir berusia senja mereka belum juga mendapatkan keturunan, namun atas kesabaran dan do’a nabi Ibrahim dan Siti Hajar, akhirnya mereka mendapatkan seorang keturunan yaitu Ismail. Sungguh ironis dan sangat tidak masuk akal menurut pandangan kita dewasa ini, anak yang semata wayang belahan hati pengarang jantung, ketika Ismail beranjak Remaja, tiba-tiba Nabi Ibrahim as mendapat perintah dari Allah ‘Azza wajalla melalui mimpinya selama tiga kali untuk menyembelih anaknya yang semata wayang itu. Karena nabi Ibrahim as yakin bahwa itu adalah perintah Allah ‘Azza wajalla, maka mimpinya tersebut disampaikanlah kepada anaknya Ismail seperti yang diceritakan didalam Alquran sbb:
Maka tatkalah anak itu sampai (pada umur yg sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimipiku bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu’. Maka Ismailpun menjawab: “Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar”.
Sungguh suatu pelajaran yang sempurna dari Allah Ta’ala, Semoga seluruh anggota keluarga muslim mampu memetik pelajaran yang indah dan hebat dari keluarga nabi Ibrahim as ini, kita yang menjadi Ayah semoga bisa menjadi ayah yang demokratis adil dan bijaksana sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ibrahim as yang mengajak anaknya bermusyawarah untuk melaksanakan perintah besar dari Allah swt dan para wanita yang ditakdirkan Allah menjadi ibu, semoga mampu meneladani Siti Hajar, profil ibu rumah tangga yang mendukung, membantu dan mendo’akan suami dalam mentaati perintah Allah. Dan yang saat ini masih anak-anak, remaja, semoga bisa meniru kesalehan Ismail yang dengan keimanan yang menancap kelubuk hati dan ketaqwaannya yang tinggi menjadikan ia sabar dan ikhlas untuk berbakti pada orang tuanya sekalipun ia harus “dikorbankan” oleh ayahnya sendiri demi mengikuti perintah Allah. insyaAllah dengan demikian kita semua akan menjadi keluarga yang kuat dan hebat.
Allahu Akbar3x walillahilhamd

Jamaah Shalat dan khutbah idul adha Rahimahkumullah
Karena keikhlasan dan ketaqwaan yang betul-betul dari keluarga nabi Ibrahim ini, akhirnya Allah subhanahu wata’ala mengganti nabi Ismail as dengan dengan tebusan sembelihan yang besar, seekor kambing yang besar yang dibawa dari surge oleh malaikat jibril. Malaikat jibril bertakbir (Allahu Akbar3x) diteruskan oleh nabi Ibrahim membaca (Laillaha illallahu Allahu Akbar) diakhiri oleh nabi Ismail dengan membaca (Allahu Akbar Wallillahilhamd).
Maka dengan kisah Dakwah dan pengorbanan pada keluarga Ibrahim ini insyAllah kita akan dapat menjadi manusia-manusia yang tangguh, pengorbanan yang diperintahkan kepada nabi Ibrahim dan Ismail ini tidak akan adalagi dan mustahil terjadi  pada masa sekarang ini, namun pengorbanan-pengorbanan yang ditunjukan pada Nabi dan Wali Allah ini adalah pengorbanan yang sangat tinggi, maka untuk kita sebagai muslim diakhir jaman ini pengorbanan yang dituntut untuk kita lakukan saat ini adalah pengorbanan waktu untuk selalu menuntut ilmu agama baik kaum remaja kita maupun kita yang sudah dewasa ataupun tua, pengurbanan waktu dan tenaga bagi kita semua untuk selalu melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintahkan kepada, pengurbanan perasaan bagi kaum Hawa yang dituntut agar selalu berbusana sesuai dengan perintah Allah ‘Azza wajalla dan juga pengurbanan yang tak kalah pentingnya adalah pengurbanan harta benda, baik untuk bersedekah, infak dan terutama Zakat mal dan fitrah serta pengurbanan dengan menyembelih hewan tertentu yang saat ini banyak dilakukan oleh umat Islam diberbagai belahan dunia ini. karena memang Dari kisah inilah akhirnya kurban dijadikan suatu yang disyari’atkan dalam agama kita ini. Bahkan nabi bersabda “janganlah dekat ketempat shalat kami bagi orang-orang yang mampu tetapi tidak mau berkurban”
Ini menunjukan betapa pentingnya kurban tersebut.
Semoga dengan mengambil teladan dari kekasih Allah Nabi Ibrahim, kita terinspirasi untuk menjadi hamba Allah yang hati, lisan dan perbuatannya selalu terikat dengan Allah. Sehingga apapun yang menimpa kita di dunia karena berpegang teguh kepada agama Allah tidak membuat kita bersedih hati dan khawatir karena kita bersama Dzat yang Maha Agung, kita bersama Dzat yang Maha Besar. Maka tidak ada cara bagi kita untuk mendapatkan ketengangan melainkan dengan mengisi kekosongan hati dan pikiran kita dengan selalu bergantung kepada Allah SWt.
Dan akhirnya Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِينَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِينَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ المُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته




Tidak ada komentar:

Posting Komentar