اَلسَلَامُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اللهُ أَكْبَر, أللهُ
أكْبَر, أللهُ أكْبَر، أللهُ أكْبَر، أللهُ أكْبَر، أللهُ أكبَر،أللهُ أكبَر،
أللهُ أكْبَر، أللهُ أكْبَرُ،
أللهُ
أَكْبَركَبِيْرَاوَالْحَمْدُاللهِ كَشِيْرَاوَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةَ
وَأَصِيْلَا لَاإِلَهَ إِلَاالله وَاللهُ أَكْبَرُ، أللهُ أَكْبَر وَالِلهِ
الحَمْدُ.
اِنَّ الْحَمْدَللهِ
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُبِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ
أَنْفُسِنَاوَمِنْ سَيِّءَـاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَاَ مُضِلَّ
لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُأَنْ لَاإِلَهَ إِلَاّالله
وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ تَسْلِمًا
فَيَا
عِبَادَ اللهِ أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِه،ِ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
أَمَّا بَعْدُ…
قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
أَمَّا بَعْدُ…
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Walillahil hamdu….
Jamaah
Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Puji
syukur kita panjatkan kepada Allah ‘azza wajalla atas segala
limpahan nikmat dan karunia-Nya yang tak terbilang. Dengan izin dan karunia-Nya
semata kita bisa melaksanakan shalat Idul Adha pada tahun 1440 H ini dalam
keadaan fisik yang InsyaAllah sehat dan kondisi yang lapang. Semoga nikmat
kesehatan, waktu luang, dan kelapangan ini bisa kita syukuri sebaik-baiknya,
untuk memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita di hadapan
Allah ‘azza wajalla.
Shalawat
dan salam senantiasa kita panjatkan untuk suri tauladan kita, Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, beserta segenap keluarganya, sahabatnya, dan umatnya
yang sabar menjalankan ajaran agamanya.
Jamaah
Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Di
pagi hari yang mulia ini, kaum muslimin di seluruh dunia melantunkan takbir,
tahlil, dan tahmid, demi mengagungkan Allah dan mensyukuri nikmat-Nya. Pada
pagi hari ini, takbir, tahlil, dan tahmid dilantunkan oleh jutaan jamaah haji
yang sedang melaksanakan manasik di Mina. Kumandang takbir, tahlil,
dan tahmid juga dilantunkan oleh milyaran kaum muslimin di berbagai penjuru
dunia, di wilayah pedesaan dan perkotaan, di wilayah pantai dan pegunungan, di
wilayah ramai dan pedalaman.
Takbir,
tahlil, dan tahmid tidak akan berhenti dengan selesainya shalat Idul Adha.
Takbir, tahlil, dan tahmid akan terus dilantunkan oleh seluruh kaum muslimin
sampai waktu Ashar tanggal 13 Dzulhijjah esok. Selama hari raya Idul Adha dan
tiga hari tasyriq esok, gema takbir, tahlil, dan tahmid akan terus berkumandang
dari masjid-masjid, jalan-jalan, pasar-pasar, dan rumah-rumah kaum muslimin.
Demikianlah sebagaimana diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam dan generasi sahabat selama hari raya Idul Adha dan
hari-hari tasyriq.
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Walillahil hamdu….
Jamaah
Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Ibadah
haji, puasa Arafah, shalat Idul Adha, dan udhiyah (yaitu
menyembelih hewan ternak tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza
wajalla pada tanggal 10, 11 12, dan 13 Dzulhijah) kembali menyapa kaum
muslimin pada tahun ini. Setiap tahun, keempat ibadah yang istimewa ini hadir
di hadapan kaum muslimin. Setiap tahun keempatnya berulang datang.
Pengulangan
demi pengulangan tersebut seharusnya meninggalkan bekas yang mendalam bagi
keimanan dan ketakwaan kita. Bukan sebaliknya, kehadiran demi kehadirannya
menjadikannya peristiwa yang kita anggap biasa saja. Akibatnya, datang dan
pergi begitu saja, tanpa ada manfaat bagi dunia dan akhirat kita, tanpa ada
maslahat bagi individu kita dan umat kita.
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallahu, Allahu Akbar, Allahu
Akbar, Walillahil hamdu….
Jamaah
Shalat dan Khutbah Idul Adha rahimakumullah,
Hari raya Idhul Adha adalah momen yang paling tepat
merefleksikan kisah-kisah Nabi Ibrahim as. Kekasih Allah dan bapaknya para
Nabi. Teladan dalam pengorbanan, teladan dalam dakwah, teladan dalam keteguhan
dan teladan dalam ketaatan.
Ketika kita membaca firman Allah SWT yang berbunyi :
اَلَآاِنَّ اَوْلِيَآءَاللهِ لَاخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَاهُمْ
يَحْزَنُوْنَ
Artinya, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus
62)
Maka salah satu sosok yang bisa kita teladani
sebagai wali Allah yang tidak merasakan khawatir dan juga tidak bersedih
atas apa yang menimpanya di jalan Allah adalah Nabi Ibrahim as.
Nabi Ibrahim adalah pembawa risalah kebenaran
satu-satunya pada masa itu. Seluruh kaumnya berbuat syirik kepada Allah, ada
yang menyembah bintang-bintang dan ada pula yang menyembah berhala dan bapak
Nabi Ibrahim termasuk dari orang yang menyembah berhala.
Dakwah pertama yang dilakukan Nabi Ibrahim as adalah
menyeru bapaknya kepada agama tauhid, agar bapaknya mau mengikuti kebenaran
yang dibawa oleh Ibrahim as.
Allah SWT mengisahkan dakwah Ibrahim kepada
bapaknya.
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ
وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا
Artinya, “Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku,
mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak
dapat menolong kamu sedikitpun?” (QS Maryam : 42)
Namun ajakan Ibrahim kepada bapaknya untuk
bertauhid, menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang disembah, ditaati
dan diikuti aturannya berbuah ancaman dan kemarahan dari sang ayah. Allah SWT
berfirman:
قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ ۖ لَئِنْ
لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ ۖ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا
Artinya, “Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai
Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan
tinggalkanlah aku buat waktu yang lama.” (QS Maryam : 46)
Meskipun mendapat penolakan dari bapaknya, Ibrahim
muda tidak patah arang. Dia terus memberikan argumentasi-argumentasi yang
mematikan dan membuat para penyemabah-penyembah berhala itu mati kutu atas
argumentasi yang disampaikan oleh Ibrahim.
Dan puncak dari itu semua adalah ketika Ibrahim as
dengan gagah berani menghancurkan berhala-berhala sesembahan kaumnya dan
menyisakan berhala yang paling besar serta mengalungkan kapak kepada berhala
yang paling besa itur. Nabi Ibrahim memahami betul resiko yang dia hadapi atas
perbuatannya. Kemurkaan serta kemarahan dari kaumnya tidak akan terhindarkan.
Akan tetapi Nabi Ibrahim tetap melakukan hal tersebut untuk memberikan pesan
yang jelas dan nyata kepada kaumnya bahwa peribadatan kepada patung-patung yang
mereka lakukan adalah suatu kebatilan dan prilaku yang tidak bisa diterima oleh
akal sehat manusia.Namun fanatisme buta kaumnya terhadap sesembahan mereka
membuat nalar mereka mati, akal tidak lagi berpikir secara logis dan rasional. Dan
akhirnya Dakwah Ibrahim ini berujung pada penyiksaan dengan pembakaran.
Allahu 3x walillahilhamdu
Kaum Muslimin yang
dirahmati Allah
Bisa kita bayangkan bagaimana
mencekamnya kondisi yang dihadapi oleh Nabi Ibrahim ketika itu, ketika seluruh
manusia memusuhinya, ketika kaumnya mempersekusinya dan tidak ada yang berpihak
kepadanya seorangpun.Mereka bersiap membakar nabi Ibrahim, kayu-kayu
dikumpulkan, menara sebagai tempat pembakaran dipersiapkan, lubang yang dalam
di bawah menara juga digali. bahkan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa
tidaklah burung terbang di atas kobaran api tersebut melainkan akan mati
terpanggang.
Prosesi pembakaran sang kekasih
Allah dimulai. Ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, maka semua makhluk
Allah, bumi, langit dan para malaikat memohon kepada Allah.
يَا رَبِّ ، خَلِيلُكَ
يُلْقَى فِي النَّارِ ، فَأْذَنْ لَنَا نُطْفِئْ عَنْهُ ، قَالَ : هُوَ خَلِيلِي ،
لَيْسَ لِي فِي الأَرْضِ خَلِيلٌ غَيْرُهُ ، وَأَنَا رَبُّهُ ، لَيْسَ لَهُ رَبٌّ
غَيْرِي ، فَإِنِ اسْتَغَاثَ بِكُمْ فَأَغِيثُوهُ ، وَإِلا فَدَعُوهُ
Artinya, “Wahai Rabbku,
kekasih-Mu dilemparkan ke dalam api, maka izinkan kami untuk membantu
memadamkan api untuknya. Allah menjawab, “Dia adalah kekasih-Ku dan tidak ada
di bumi (pada waktu itu) kekasih-Ku selain dirinya dan Saya adalah Rabb-nya dan
tidak ada Rabb yang ia miliki selain Diriku. Jika dia meminta tolong kepada
kalian, maka bantulah dia, namun jika tidak maka biarkan saja dia.” (HR
Ahmad)
Ada sebuah momen menarik yang
diceritakan oleh Ibnu Jarir Ath-Thobari ketika Nabi Ibrahim dibakar, penghulu
malaikat Jibril as, terlihat menampakkan wujudnya di hadapan Nabi Ibrahim.
Jibril bertanya kepada Ibrahim:
يَا إِبْرَاهيم أَلَكَ
حَاجَةٌ؟ قال: أمَّا إِلَيْكَ فَلَا أَمّا إلى الله فَنَعَمْ
Artinya, Wahai
Ibrahim, apakah kamu membutuhkanku? Ibrahim menjawab, “Kepadamu wahai Jibril,
maka saya tidak membutuhkannya, adapun kepad Allah, maka sudah pasti saya
membutuhkannya.”
masyaAllah Sebuah jawaban yang
menggambarkan kuat dan kokohnya pemahaman Ibrahim terhadap Allah yang menjadi
tempat bergantung. Nabi Ibrahim tidak ingin bersandar kepada selain Allah, Nabi
Ibrahim tahu betul bahwa Allah adalah satu-satunya Dzat yang mampu menolongnya.
Inilah puncak tawakkal, inilah puncak iman dan inilah puncak penghambaan kepada
Allah. Meskipun jika sebenarnya Ibrahim
mengiyakan tawaran Jibril, hal itu tidaklah mengapa, karena Jibril tidaklah mampu
menolong Ibrahim kecuali atas izin dari Allah. Akan tetapi Nabi Ibrahim
menginginkan tempat yang mulia di sisi Allah.
Inilah wali Allah, persekusi
manusia, kobaran api yang tinggi, kemarahan penguasa tidak menyurutkan langkah
beliau untuk tetap teguh di jalan Allah, sama sekali tidak bergeser, tiada
ketakutan pada diri Nabi Ibrahim, karena beliau yakin Allah bersamanya.
Bahkan momen ini menjadi momen
terbaik dalam hidup Nabi Ibrahim, momen yang dalam pandangan manusia adalah
momen yang menakutkan, namun bagi Nabi Ibrahim ini adalah momen terindah di
dalam hidupnya. Momen di mana beliau merasakan kedekatan yang luar biasa dengan
Allah, momen ketika beliau berada di puncak keyakinan terhadap Allah.
Hal ini tergambar dalam ungkapan
Nabi Ibrahim, beliau berkata:
مَا كُنْتُ أَيّامًا
قَطّ أَنْعَمُ مِنّي مِنَ الأَيّامِ الّتِي كُنْتُ فِيهَا فِي النّارِ
Artinya, “Tidak pernah saya
melewati hari-hari yang paling indah (dalam hidup saya) melebihi hari di mana
saya dibakar oleh api.”
Allahu Akbar3x Wallillahilhamd
Jamaah Shalat dan
khutbah idul adha yang dirahmati Allah
itulah sedikit gambaran tentang dakwahnya nabi
Ibrahim dikala muda, namun setelah ia beristeri dan menjalankan bhatera rumah
tangga, ujianpun selalu dialaminya, dimana pada waktu nabi Ibrahim hampir
berusia senja mereka belum juga mendapatkan keturunan, namun atas kesabaran dan
do’a nabi Ibrahim dan Siti Hajar, akhirnya mereka mendapatkan seorang keturunan
yaitu Ismail. Sungguh ironis dan sangat tidak masuk akal menurut pandangan kita
dewasa ini, anak yang semata wayang belahan hati pengarang jantung, ketika
Ismail beranjak Remaja, tiba-tiba Nabi Ibrahim as mendapat perintah dari Allah
‘Azza wajalla melalui mimpinya selama tiga kali untuk menyembelih anaknya yang
semata wayang itu. Karena nabi Ibrahim as yakin bahwa itu adalah perintah Allah
‘Azza wajalla, maka mimpinya tersebut disampaikanlah kepada anaknya Ismail
seperti yang diceritakan didalam Alquran sbb:
Maka tatkalah anak itu sampai (pada umur yg sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘wahai anakku sesungguhnya aku
melihat dalam mimipiku bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu’. Maka Ismailpun menjawab: “Wahai bapakku kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu, InsyaAllah engkau akan mendapati aku termasuk
orang-orang yang sabar”.
Sungguh suatu pelajaran yang sempurna dari Allah
Ta’ala, Semoga seluruh anggota keluarga muslim mampu memetik pelajaran yang
indah dan hebat dari keluarga nabi Ibrahim as ini, kita yang menjadi Ayah semoga
bisa menjadi ayah yang demokratis adil dan bijaksana sebagaimana yang dilakukan
oleh nabi Ibrahim as yang mengajak anaknya bermusyawarah untuk melaksanakan
perintah besar dari Allah swt dan para wanita yang ditakdirkan Allah menjadi
ibu, semoga mampu meneladani Siti Hajar, profil ibu rumah tangga yang
mendukung, membantu dan mendo’akan suami dalam mentaati perintah Allah. Dan
yang saat ini masih anak-anak, remaja, semoga bisa meniru kesalehan Ismail yang
dengan keimanan yang menancap kelubuk hati dan ketaqwaannya yang tinggi
menjadikan ia sabar dan ikhlas untuk berbakti pada orang tuanya sekalipun ia
harus “dikorbankan” oleh ayahnya sendiri demi mengikuti perintah Allah.
insyaAllah dengan demikian kita semua akan menjadi keluarga yang kuat dan
hebat.
Allahu Akbar3x walillahilhamd
Jamaah Shalat dan
khutbah idul adha Rahimahkumullah
Karena keikhlasan dan ketaqwaan yang betul-betul
dari keluarga nabi Ibrahim ini, akhirnya Allah subhanahu wata’ala mengganti
nabi Ismail as dengan dengan tebusan sembelihan yang besar, seekor kambing yang
besar yang dibawa dari surge oleh malaikat jibril. Malaikat jibril bertakbir
(Allahu Akbar3x) diteruskan oleh nabi Ibrahim membaca (Laillaha illallahu
Allahu Akbar) diakhiri oleh nabi Ismail dengan membaca (Allahu Akbar
Wallillahilhamd).
Maka
dengan kisah Dakwah dan pengorbanan pada keluarga Ibrahim ini insyAllah kita
akan dapat menjadi manusia-manusia yang tangguh, pengorbanan yang diperintahkan
kepada nabi Ibrahim dan Ismail ini tidak akan adalagi dan mustahil terjadi pada masa sekarang ini, namun
pengorbanan-pengorbanan yang ditunjukan pada Nabi dan Wali Allah ini adalah
pengorbanan yang sangat tinggi, maka untuk kita sebagai muslim diakhir jaman
ini pengorbanan yang dituntut untuk kita lakukan saat ini adalah pengorbanan
waktu untuk selalu menuntut ilmu agama baik kaum remaja kita maupun kita yang
sudah dewasa ataupun tua, pengurbanan waktu dan tenaga bagi kita semua untuk
selalu melaksanakan ibadah-ibadah yang diperintahkan kepada, pengurbanan
perasaan bagi kaum Hawa yang dituntut agar selalu berbusana sesuai dengan
perintah Allah ‘Azza wajalla dan juga pengurbanan yang tak kalah pentingnya
adalah pengurbanan harta benda, baik untuk bersedekah, infak dan terutama Zakat
mal dan fitrah serta pengurbanan dengan menyembelih hewan tertentu yang saat
ini banyak dilakukan oleh umat Islam diberbagai belahan dunia ini. karena
memang Dari
kisah inilah akhirnya kurban dijadikan suatu yang disyari’atkan dalam agama kita
ini. Bahkan nabi bersabda “janganlah dekat ketempat shalat kami bagi
orang-orang yang mampu tetapi tidak mau berkurban”
Ini menunjukan betapa pentingnya
kurban tersebut.
Semoga dengan mengambil teladan
dari kekasih Allah Nabi Ibrahim, kita terinspirasi untuk menjadi hamba Allah
yang hati, lisan dan perbuatannya selalu terikat dengan Allah. Sehingga apapun
yang menimpa kita di dunia karena berpegang teguh kepada agama Allah tidak
membuat kita bersedih hati dan khawatir karena kita bersama Dzat yang Maha Agung,
kita bersama Dzat yang Maha Besar. Maka tidak ada cara bagi kita untuk
mendapatkan ketengangan melainkan dengan mengisi kekosongan hati dan pikiran
kita dengan selalu bergantung kepada Allah SWt.
Dan akhirnya Marilah kita tutup
khutbah ini dengan berdoa kepada Allah
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ
مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي
العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ
الرَّاشِدِينَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِينَ، وَعَنْ سَائِرِ
الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ، وَعَنِ المُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ
الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لَنَا وَلِلمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ،
الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ
الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ
قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ
أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا إِنَّنَا
آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا
عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
رَبَّنَا إِنَّنَا
سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا
رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا
مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا
أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ
الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا
وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
رَبَّنَا اصْرِفْ
عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
رَبَّنَا هَبْ لَنَا
مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا
رَبَّنَا
وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ
آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ
الْحَكِيمُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ
رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
والسلام عليكم ورحمة
الله وبركاته
Tidak ada komentar:
Posting Komentar