Minggu, 11 Agustus 2019

HADIAH AMALAN

HADIAH AMALAN

ADA BANYAK PERTANYAAN DAN PERDEBATAN TENTANG HADIAH AMALAN KEPADA SIMAYIT, APAKAH HADIAH AMALAN-AMALAN TERSEBUT NYAMPEI KEPADA SIMAYIT ATAU TIDAK, HAL INI MASIH SELALU JADI PERDEBATAN DIANTARA TOKOH-TOKOH DARI KELOMPOK MEREKA MASING-MASING




Bila kita berbicara tentang hadiah amalan kepada orang yang sudah meninggal dunia, maka akan kita dapatkan berbagai pertanyaan-pertanyaan dan bahkan perdebatan-perdebatan yang tak kunjung selesai, mereka dengan piawainya mengeluarkan argumen-argumen mereka masing-masing dengan berbagai dalih dan alasan yang terkadang terkesan dibuat-buat agar pendapat mereka mendapatkan pembenaran dan kebenaran.

Kalau kita mau berfikir dengan akal sehat dan dengan logika yang sangat sederhana, dengan merujuk keberbagai dalil Alquran dan sunnah Rasul, maka Orang yang sudah mati itu tidak dapat berbuat apa-apa lagi dan tidak akan mendapatkan pahala apa-apa lagi kecuali dari hasil perbuatanya sewaktu hidup di dunia dahulu.

Misalnya, ia peroleh pahala dari amal jariahnya, maka sudah barang tentu sewaktu hidup didunia dahulu ia telah banyak bersedeqah, berinfaq atau pun mewakapkan harta bendanya dijalan Allah, maka wajarlah kalau ia menerima amal atau pahala dari hasil jerih payahnya ini walau ia tinggal tulang belulangnya lagi.

Bila ia mendapatkan pahala dari ilmu yang ada padanya, maka sudah barang tentu orang itu telah mengamalkan ilmunya dan sekaligus mengajarkanya kepada orang lain, sehingga orang tersebut memperoleh manfaat dari ilmu yang diajarkannya itu, dan sangat masuk akal kalau ia mendapat pahala dari usaha jerih payahnya yang telah mencerdaskan orang lain itu.

Dan bila seseorang mendapatkan pahala atau pun ampunan dari do,a anak yang Saleh, karena ia selalu mendo'akan kedua orang tuanya, maka sangatlah wajar, karena disamping dia anak kandungnya ia juga mendidik dan membina dengan segala upaya agar anak tersebut menjadi anak yang Saleh, sehingga dengan kesalehannya itu ia selalu mendo'akan ibu bapaknya.

Jadi jelaslah bahwa yang mengalirkan pahala atau pun ampunan bagi orang yang sudah meninggal dunia itu adalah hasil jerih payahnya sewaktu ia hidup didunia ini, bukan hasil dari kiriman saudara-saudaranya yang sering berkirim amalan bacaan ayat-ayat suci Alquran.

Dan yang patut kita pertanyakan tentang berkirim Amalan dari bacaan-bacaan ayat-ayat atau surat-surat dari Alquran itu adalah,

- Apakah kita yakin kalau setiap kita membaca Alquran itu pasti akan diberi pahala oleh Allah...? atau apakah mungkin tidak sebaliknya.....!!!???

Apakah kita yakin orang yang kita kirimi pahala tersebut pahalanya lebih sedikit atau pahalanya jauh dibawa kita yang mengirimi, atau jangan-jangan orang yang kita kirimi ini adalah orang yang pahalanya sudah sangat banyak dan bahkan mungkin dia yang akan dapat memberikan syafaat bagi sipengirim...???

- Kemudian Seandainya pahala atau hadiah amalan itu memang diterima oleh simayit, maka saya yakin tidak akan ada satupun dari orang-orang kaya zaman dahulu hingga akhir zaman nanti yang akan masuk neraka, karena mereka akan mudah dan gampang mengundang orang sebanyak-banyaknya setiap malam jumat atau bahkan mungkin setiap malam untuk melakukan ritual-ritual selamatan dan kiriman amalan kepada para ibu bapak, kakek nenek, buyut-buyut dan para leluhur mereka.

Kita semua pasti berharap agar semua orang-orang dekat dengan kita atau semua umat Islam dari dahulu sampai akhir jaman, semuanya masuk kedalam surga. Tapi sangat tidaklah pantas kita sebagai hambah Allah yang lemah, yang penuh berlumur dosa dengan semenah-menah mendikte Allah Subbhanhu wata'aala agar menyampaikan kiriman-kiriman kita kepada para mayit-mayit kita yang telah mendahului kita, terlebih lagi kadang kita tidak mengetahui tentang jati diri simayit tersebut, apakah dia benar-benar Islam atau hanya berpura-pura Islam atau barang kali hanya KTP nya Doang yang Islam......

Semoga ulasan yang singkat ini dapat mencerahkan kita semua Amiiin.......

Kamis, 08 Agustus 2019

Tentang Do,a


اِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ
Jamaah jum’at yang insyaAllah dirahmati Allah
Dengan rahmat dan hidayah Allah kita saat ini masih dapat melaksanakan aktivitas kita pada setiap jumat, yang merupakan kewajiban bagi setiap laki-laki muslim yang sudah baligh dan tidak dalam keadaan Uzur. Maka selayaknya kita selalu bersukur atas nikmat tersebut, dengan syukur yang benar-benar sesuai dengan tuntunan nabi kita Muhamad Saw, yaitu sukur dengan lisan, dengan banyak mengucap hamdallah, sukur dengan tindakan yaitu menjalankan segala perintah Allah dan Rasulnya. Shalawat dan salam mari selalu kita limpahkan untuk junjungan kita nabiyullah Muhamad Shallallahu ‘alaihi wasallam,semog beliau, keluarga dan para sahabatnya akan selalu dalam rahmat dan kasih sayang Allah serta pada akhirnya kita yang senantiasa bershalawat padanya akan mendapat syafaat dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam diyaumil akhir nanti. Amiiin.
Selanjutnya disini sebagai kahtib sy wasiatkan pada kita semua terutama diri sy pribadi dan para jamaah semuanya. Marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah, dengan ketaqwaan yang nyata, dengan ketaqwaan yang sesungguhnya yaitu menjalankan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasulnya dan meninggalkan segala yang dilarang Allah Rasulnya. Maka dengan demikian InsyaAllah kita akan menjadi hambah yang akan memperoleh kemenangan.
Kaum msulimin
Adapun khutbah hari ini adalah tentang Do’a”.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa doa adalah ruhnya ibadah atau ada juga yang mengatakan sumsumnya ibadah, itu artinya menunjukan bahwa pentingnya do’a tersebut bahkan do’a adalah sesuatu yang amat penting didalam Islam, sehingga Allah mencelah kepada orang yang tidak mau berdo’a:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْ اَسْتَجِبْ لَكُمْ, اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَمَ دَاخِرِينَ
Artinya: “Dan Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”
(QS. Al Mukmin: 60)
Asaukani Rahimahullah berkata, bahwa makna ayat diatas adalah bahwa Do’a itu adalah ibadah dan meninggalkan berdo’a kepada Allah itu adalah suatu kesombongan yang paling buruk.
Dan hal itu juga sesuai dengan Hadits nabi berikut ini:
اَلدُّعَاءُهُوَّالْعِبَادَةُ ثُمَّ قَالَ: قَالَ رَبُّكُمْ اُدْعُوْنِيْ اَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya : “Doa itu ialah Ibadah, seraya nabi membacakan firman Allah: ‘Berdo’alah padaku niscaya aku akan menerima permintaan kamu”. (H.R. Abu Dawud)
Dengan hadits diatas kita memahami bahwa yang dikatakan do’a itu sesungguhnya adalah ibadah, karena bila kita ambil definisi dari pada sombong berdasarkan hadits Rasulullah saw  yang menjawab pertanyaan sahabat yang menanyakan apkah orang yang berhias, memakai sandal baru dan baju itu termasuk sombong? Maka Rasulullah saw bersabda:
إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَلَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
 Artinya : Allah itu suka akan keindahan menyukai sikap berhias.Sombong itu adalah menolak kebenaran dengan takabur dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim)
Maka jelas makna orang yang tidak berdo,a itu sombong adalah orang yang enggan menundukan diri dihadapan Allah ‘Azza wajalla, baik dalam menyembah maupun untuk meminta.
Jamaah jum’at yg InsyaAllah dirahmati Allah
Karena do’a merupakan suatu ibadah dan merupakan perintah Allah maka ibadah itu tentu ada aturan-aturan yang diatur oleh Allah dan Rasulnya, missalnya saja, kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala agar berdo’a kepadanya dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lemah lembut serta tidak melampaui batas. Hal ini terdapat dalam surat Al-A’raf ayat 55 yang bunyinya sbb:
اُدْعُوْارَبَّكُمْ تَضَرُّعًاوَّخُفْيَةً’ اِنَّهُ لَايُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ. وَلَاتُفْسِدُوْافِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَاوَادْعُوْهُ خَوْفًاوَّطَمَعًا, اِنَّ رَحْمَتَ اللهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya : “Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu merusak dimuka bumi, sesudah Allah memperbaikinya dan berdo’alah kepadanya dengan rasa takut dan berharap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat pada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A’raf: 55-56)
Dalam ayat ini Allah menuntun para hambanya untuk selalu berdo’a dan menyeru kepadanya dalam segala urusan kepentingan mereka didunia maupun diakhirat. Juga menuntun cara berdo’a agar dapat diterima yaitu dengan perasaan merendahkan diri, menyadari bahwa dirinya adalah hambah yang memohon pada Tuhanya, dengan suara yang lembut dan lirih berharap belas kasih dari yang dimintainya.
Abu Musa Al-Asy’ari ra berkata, ketika Rasulullah saw mendengar ada orang yang berdo’a dengan suara yang keras dan lantang, maka nabiyullah saw bersabda:
اَيُّهَاالنَّاسُ ارْبَعُواعَلَى اَنْفُسِكُمْ فَاِنَّكُمْ لَاتَدْعُونَ اَصَمَّ وَلَاغَاءِبَااِنَّ الَّذِى تَدْعُونَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ
Artinya : “Wahai manusia tahanlah suaramu (Kasihanilah) dirimu, karena kalian tidak menyeru kepada Tuhan yang pekak dan jauh, sesungguhnya kalian berseru pada Tuhan yang sangat dekat dan maha mendengar”. (HR.Bukhari & Muslim)
Kaum muslimin
Dalam hadits tersebut telah nyata kita disuruh agar berdoa dengan suara lembut, lirih, juga dengan perasaan rendah diri, patuh dan taat dengan khusyu’ dan yakin sepenuhnya terhadap keesaan dan kekuasaan Allah, tanpa memperkeras suara apalagi bila untuk dipuji orang.
Alhasan Albashri berkata: bahwa dahulu adakalanya seseorang yang hafis 30 juz Alquran, tetapi tidak seorangpun yang mengetahuinya, dan ada pula yang pandai tentang fiqh tetapi tidak seorangpun yang mengetahuinya bahkan adakalanya seseorang melakukan Shalat sunat dirumahnya yang sangat khusyu’, tetapi tidak seorangpun dari seisi rumahnya yang mengetahuinya. Pendirian mereka tiada suatu amalpun yang dapat dilakukan dengan rahasia melainkan mereka melakukan dan merahasiakannya, mereka rajin berdo’a tetapi tidak terdengar suara mereka kecuali mereka hanya berbisik. Dan begitu pula tentang isi do’anya kita tidak perbolehkan berlebihan dalam berdo’a. Sa’ad ra  mendengar salah seorang putranya berdo’a dengan Do’a : “Ya Allah aku mohon padamu surge dan nikmatnya, pakaiannya dan aku berlindung padamu dari neraka dan rantainya serta belenggunya”. Maka sa’adpun berkata pada anaknya “engkau telah meminta kepada Allah kebaikan yang banyak dan berlindung dari bahay yang banyak. Sedangkan aku mendengar Rasulullah saw bersabda: 
اِنَّهُ سَيَكُنُ قَوْمُنْ يَاعْتَدُوْالنَ فِدُّعَاعِيَعْتَدُّنَ فِطَّحُوْرِوَدُّعَاعِ
Artinya : “Sesungguhnya kelak akan terjadi orang-orang yang berlebihan dalam berdo’a dan bersuci (berwhudhu’)”. (HR. Ahmad)
Maka cukuplah bagimu jika berdo’a  : “Ya Allah sy mohon kepadamu surge dan semua yang dapat mendekatkan kesurga baik yang berupa perbuatan maupun ucapan dan aku berlindung kepadamu  dari neraka dan apa yang dapat mendekatkan kepadanya baik ucapan ataupun perbuatan.
Dengan ayat dan hadits tersebut jelas bagi kita semua bahwa berdo’a itu haruslah sesuia dengan tuntunan Allah Rasulnya dan janganlah berlebih-lebihan dalam berdo’a, banyak sekali contoh-contoh orang-orang yang dikatagorikan Allah berlebihan dalam berdo’a, seseorang berdo’a meminta sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan dirinya, bahkan ada orang yang berdo’a agar disamakan dengan para shuada, para sahabat dan bahkan meminta dipersamakan seperti nabi dan Rasul, padahal kita sadar bahwa diri kita mustahil akan dapat menyamai mereka baik dalam akhlak, keimanan, ibadah dan lain-lain.
Kaum muslimin Rahimahkumullah
Berdo’a disamping kewajiban ia pun mempunya syarat-syarat dan ketentuan. Misalnya bagaimana caranya agar do’a kita dapat dikabulkan oleh Allah ‘Azza wa jalla kapan waktu yang tepat untuk berdo’a agar do’a kita diijabah dan masih banyak ketentuan-ketentuan lainnya.
Kemudian pada ayat ke 56 nya pada surat Al-A’raf diatas Allah memperingatkan kepada hamba-hambanya “Janganlah berbuat kerusakan dimuka bumi sesudah Allah memperbaikinya dan berdo’alah selalu kepada Allah, baik diwaktu takut dari sesuatu yang membangkitkan harapan ataupun keinginan maupun dalam keadaan apapun. Sesungguhnya rahmat Allah selalu dekat kepada orang yang berbuat baik. Matahar  Alwaraaq berkata, “Tuntutlah janji Allah dengan melakukan ketaatan padanya, sebab Allah telah menetapkan bahwa Rahmat-nya dekat sekali kepada orang yang berbuat baik lagi melakukan ketaatan kepadanya”. (R. Ibn Abi Hatim)
Untuk itu marilah kita selalu memperbanyak berdo’a kepada Allah dengan kelembutan dan kerendahan hati juga dengan kesabaran dan ketaatan kepada Alla ‘Azz wa jalla serta marilah pulah kita berdo’a agar saudara-saudara kita yang belum memperoleh hidayah dari Allah akan segera diberi hidayah oleh Allah subahan hu wa ta’ala. Aminn. Sebelum kita akhiri khutbah ini marilah kita simak sebuah Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:
وَعَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ كَانَ يَقُوْلُ: دَعْوَةُالْمَرْءِالْمُسْلِمِ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ, عِنْدَرَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَادَعَالِاَخِيْهِ بِخَيْرٍقَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ وَلَكَ بِمِشْلٍ
Artinya : “Dari Abu Darda ra, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda ‘Do’a seorang muslim untuk saudaranya yang tidak diketaahui oleh saudaranya yg dido’akan tersebut adalah mustajabah (Terkabulkan), dikepalanya ada malaikat yang ditugaskan disana, setiap ia berdo’a untuk saudaranya, maka malaikat itu berkata “Amiin” dan bagimu seperti yang kau pinta”. (HR. Muslim)
Semoga khutbah ini akan bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah selalu memberi taufik dan hidayahnya untuk kita semua… Aammiiiin Ya Rabbul ‘Alamiiin.

أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ






                               Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشُكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،
فَاتَّقُوْا اللهَ عِبَادَ اللهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ.
ثُمَّ اِعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَمَلَائِكَتِهِ قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَاشِدِيْنَ، اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَجَعَلَ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ احْفَظْ عَلَيْنَا أَمْنَنَا وَإِيْمَانَنَا وَاسْتِقْرَارَنَا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ سُلْطَانَنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوَرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَأَخْرِجْهُمْ مِنْ هَذَا الضَّيْقِ وَالشِّدَّةِ بِفَرَجِ عَاجِلٍ قَرِيْبٍ، (رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ).
عِبَادَ الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)، (وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فَذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرَ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

By. M.Abdush Salih

Selasa, 16 Juli 2019

Mentaati Allah dan Rasulnya


                                   السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ    

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ
فَأِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَدٍ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ، وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةِ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّار



Jamaah jum’at yang InsyaAllah dirahmati Allah
Segala puja-puji hanyalah untuk Allah semata, semoga kita semua akan senantiasa selalu menjadi hamba-hamba yang bersyukur kepadanya dalam keadaan apapun juga, baik dalam suka, maupun sedang keadaan berduka, baik ditengah keramain maupun sedang bersendiri. Shalawat dan salam semoga akan selalu membasahi bibir-bibir hamba-hambanya yang senantiasa bershalawat kepada nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendambakan syafaat dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diyaumil akhir nanti. Amiin
Selanjutnya khatib wasiatkan kepada kita semua, terutama pada diri khatib sendiri, marilah kita selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah ‘Azza wa jalla dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya, yaitu menjalankan segala perintah-perintahnya dan meninggalkan segala apa yang menjadi larangannya.
Kaum muslimin rahimahkumullah
 Judul khutbah kita hari ini adalah: “Taatilah Allah dan Rasulnya”
Firman Allah subhanahuwata’ala
فَاتَّقُوااللهَ وَاَصْلِحُواذَاتَ بَينِكُمْ، وَاَطِيْعُوااللهَ وَرَسُوْلَهُ اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ
Artinya : “Maka bertaqwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan diantara sesamamu, Dan Ta’atlah kepada Allah dan Rasulnya jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman. (QS. Al-Anfal : 1)
Bila kita perhatikan ayat ini menyeru kepada orang yang beriman untuk selalu taat kepada Allah dan Rasulnya dan juga menyeru kita agar selalu memperbaiki hubungan sesame muslim.
Dan Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa Islam itu datangnya dari Allah ‘Azza wajalla sang pemilik kerajaan dibumi dan langit, yang tiada Tuhan melainkan dia yang berhaq disembah dan dimintai pertolongannya, Allah Ta’ala telah mengutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam sebagai utusannya untuk menyampaikan risalah Islam dimuka bumi ini. Firman Allah Ta’ala:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُون
Artinya : “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada seluruh ummat manusia, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” [Saba’/34: 28].
Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup empat belas abad yang lalu, para sahabat-sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam radiallahu ‘anhum langsung dapat bertanya pada beliau shallallahu ‘alaihi wasalam tentang apa-apa yang mereka ingin ketahui tentang agama ini. Namun pada saat seperti yang kita alami saat ini, yang sudah mempunya jarak belasan abad lamanya dengan masa hidup beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam itu, musthil bagi kita untuk dapat bertanya langsung dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam. Namun kita tetap dapat mengikuti apa-apa yang telah menjadi ajaran beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengikuti dan mengamalkan ajaran beliau dari pusaka yang telah ditinggalkanya pada kita semua yang beriman yaitu Alquran dan Hadits.
Kaum muslimin yang InsyaAllah dirahmati Allah
Firman Allah Ta’ala :
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Katakanlah (wahai Muhammad): “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“” (QS. Al A’raf: 158).

Dengan sangat jelas ayat itu menyuruh kita Ta’at pada Allah, ta’at pada kitab-kitabnya dan juga pada utusannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam.
Oleh karena itu kita sebagai orang yang beriman pada Allah dan Rasulnya serta pada hari akhir kita tidak boleh sedikitpun membantah ataupun menyelisih pada ayat-ayat Allah dan juga hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena bila ada satu hadits saja ataupun satu ayat saja dari Alquran dan Hadits yang selisihi, maka kita termasuk orang yang digolongkan “Munafik”. Maka sekali-kali janganlah kita berani berkata dengan perkataan yang seolah-olah bahwa Hadits dan ayat Alquran itu buatan manusia. Orang yang beriman bila ia diseru pada kebaikan maka ia akan patuh dan taat.
Firman Allah Ta’ala yang artinya : ”Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan taat.’ Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan takut kepada Allah serta bertakwa kepada-Nya, mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (an-Nur: 51-52
Dan juga
فَلْيَحْذَرِالَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهِ اَنْ تُصِيْبَحُمْ فِتْنَةٌاَوْيُصِيْبَحُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
 “Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Menurut Ibnu Katsier dalam tafsirnya mengatakan, Maksud ayat diatas adalah hendaknya orang-orang yang menyelisih syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasalam, baik secara tampak maupun tersembunyi maka Allah akan menimpakan padanya penyakit dalam hatinya berupa Kekufuran dan kemunafikan serta akan diazab dengan azab yang sangat pedih. Na’u Zubillah summa Na’u Zubillah.
Kaum muslimin rahimah kumullah
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasalam adalah manusia pilihan Allah yang diutus untuk memperbaiki akhlak umat manusia, dan beliau adalah tauladan yang menjadi contoh untuk kita semua, beliau Shalallahu ‘alaihi wasalam adalah manusia yang berakhlak yang sangat mulia dan terkenal dengan kejujurannya sehingga beliau Shallallahu ‘alaihi wasalam dikenal dengan julukan Al-‘Amiin (yang terpercaya). Karena itulah ia menjadi pilihan Allah untuk menjadi utusan Allah dimuka bumi ini dan apa-apa yang ia katakana itu semuanya adalah Firman/ wahyu Allah yang disampaikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam. Ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wata’ala dalam Alquran :
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Muhamad itu, baik Al-Qur-an maupun Hadits) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [An-Najm/53: 3-4]

Kaum muslimin
Untuk itu marilah kita pelajari dengan benar tentang agama kita ini, kita pelajari Alquran dengan benar, baik bacaannya maupun artinya agar dapat kita mengamalkanya dalam kehidupan ini, begitu pula dengan Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam kita pelajari dengan baik sehingga kita akan dapat mengambil hikmah mana hadits yang wajib diikuti dan mana pula hadits yang wajib kita tolak, kita tidak boleh mengambil agama ini dengan apa yang disampaikan orang-orang, sebelum kita betul-betul mengetahui kalau perkataan itu benar dari sumber yang hakiki yaitu Alquran dan Hadits. Hal ini disampaikan Allah dalam Firmannya yang berbunyi :
وَلَاتَقْفُ مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ, اِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَوِالْفُؤَادَكُلُ اُلَءِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْءُوْلًا
Artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang tidak ada ilmunya (pengetahuannya) dengan kamu. Karena pendengaran, penglihatan dan juga hati nuranimu, semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya diayaumil akhir nanti”. (QS. Al-Isra’ :36)
Menurut tafsir Ibnu katsier, makna ayat tersebut, sebagai orang yang beriman kita dilarang menerima apapun berita, cerita maupun perkataan orang-orang tentang agama ini yang mengatakan begitu dan begini sebelum kita mengkroschek (mengetahui) kebenaranya, juga kita dilarang menilai sesuatu yang tampak dari luarnya saja serta kita juga tidak dibenarkan bersuozon(Berburuk sangka) kepada siapapun, karena itu semua akan diminta pertanggungan jawabannya.  Jadi bila kita mendengar ada orang yang berkata atau mengatakan bahwa Islam itu begini dan begini, maka sebaiknya tanyalah kepadanya darimana sumbernya, bila dari Alquran surat mana ayat berapa juga bila dari Hadits maka Tanyakan shaheh atau tidak, kalau shahe maka shahe siapa, begitu pula bila kita melihat sesuatu maka jangan segera mengambil kesimpulan dari apa yang kita lihat itu, karena belum tentu yang tampak oleh mata itu akan sama dengan yang sebenarnya dan begitu pula dengan hati kita, janganlah engkau gunakan untuk mendengki, jangan pula menjadikan hati selalu berburuk sangka dll, jagalah hati kita agar selalu berbuat Ikhlas dalam segala amalan-amalan.
Hanya inilah khutbah yang dapat kami sampaikan semoga Allah akan selalu memberkahi kita semua dan semoga akan menjadikan mula hidayah, ‘ilmu dan taufiknya pada kita semua. Aamiiin ya Rabbul ‘alamiin.

وَفَّقَنـِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ لِأَدَاءِ الْأمَانَةِ وَحَمَانَا جَمِيْعًا مِنَ الْإِضَاعَةِ وَالْـخِيَانَةِ وَغَفَرَ لَنَا وَلِوَلِدِيْنَا وَلِـجَمِيْعِ الْـمُسْلِمِيْنَ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah kedua

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا 
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اَللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذِهِ الْقُلُوْبَ , قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَي مَحَبَّتِكَ
وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ, وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ
وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ
فَوَثِّقِ اللَّهُمَّ رَابِطَتَهَا, وَأَدِمْ وُدَّهَا، وَاهْدِهَا سُبُلَهَا
وَامْلَأَهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُوْا
وَاشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ الْإِيْمَانِ بِكَ, وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ
وَاَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ، وَأَمِتْهَا عَلَى الشَّهَادَةِ فِيْ سَبِيْلِكَ
إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمِينَ.


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


By: M.Abdush Saleh

Minggu, 16 Desember 2018

Khutbah Juma,at Ngerinya Alam Akhirat

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Marilah dengan tidak pernah merasa jenuh untuk selalu mensyukuri ni’mat Allah Ta’ala yang begitu banyak tercurah kepada kita sebagai makhluknya, yang apabila kita mencoba untuk menghitungnya niscaya kita tak akan mampu melakukanya, misalnya saja hari ini, bila Allah swt tidak memberikan taufik dan hidayahnya niscaya kita tidak akan berada ditempat ini sekarang ini. Salawat dan salam mari senantiasa kita curahkan pada junjungan kita, panutan kita Nabiyullah Muhamad Saw, smoga curahan rahmat dan kasih sayang Allah selalu melimpah pada beliau saw, keluarganya dan juga para sahabat-sahabatnya serta InsyaAllah kita sbagai pengikutnya akan mendapat syafaat  darinya diayumil akhir nanti. Amiiin ya Rabbal ‘Alamiiin

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Marilah kita selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah ‘Azza Wa Jalla dengan keimanan dan ketaqwaan yang hakiki, yaitu Dengan hanya menyembah/ beribadah dan meminta hanya kepadanya semata dan menjalankan segala perintah-perintahnya terutama dan yang paling utama perintah Shalat karena kata Rasulullah saw “bila baik Shalat seseorang maka amalan yang lain akan ikut baik, bila buruk Shalat seserorang maka amalan yang lainpun akan ikut buruk juga dan yang paling tegas Rasulullah mengatakan janganlah kamu tinggalkan semua Shalat-shalat lima waktu dan bila kamu berani meninggalkanya satu waktu saja dengan sengaja dan tanpa Uzur, maka Allah berlepas diri darimu atau dengan kata lain Allah tidak akan memberikan perlindungan lagi padamu”. dan juga marilah kita jauhi semua larangan-larangannya terutaama larangan-larangan yang besar.

Kaum muslimin Rahimahkumullah

Marilah kita segera mencari bekal untuk menuju pertemuan kita dengan sang pencipta kita, Allah Rabbu’Izzati, karena kita tidak mengetahui kapan kita akan mati, kapan ajal akan menjemput kita. Dalam hal ini Allah Ta’ala Berfirman:

وَتَــزَوَّدُوْافَاِنَ خَيْرَالزَّادِالتَّقْوَى، وَاتَّقُوْنِ يَاُولىِ الْاَلْبَابِ

Artinya : “Dan berbekalah kalian maka sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Taqwa dan bertaqwalah kalian kepadaku wahai orang-orang yang mempunyai akal dan hati yang bersih”. (QS. Al-Baqarah : 197)

Ketahuilah sesungguhnya kita manusia ini sedang dalam melakukan perjalanan setapak demi setapak dalam menempuh kehidupan ini, dimulai dari alam rahim, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat. Tahapan-tahapan tsb harus kita jalani hingga akhirnya nanti kita akan menemui alam akhirat, tempat dimana kita akan memperhitungkan segala amalan yang telah kita lakukan semasa didunia ini. Maka sepatutnyalah tatkala kita mendengar  ada yang menyampaikan ayat-ayat Alquran dan Hadits Nabi yang memberitakan tentang keadaan Alam akhirat, hendaklah hati kita menjadi takut, menangis dan menjadi dekatlah hati kita kepada Allah Subbhana Wata’ala.
Akan tetapi bagi kebanyakan orang yang tidak merasa takut kepada Allah ‘Azza Wa jalla ketika disebut kata Neraka, Azab, As-Shirat dan lain sebagainya dan terasa maka terasa ringan diucapkan tanpa makna sama sekali bagi mereka. Na’udzubillahi min dzalik.

Mari kita simak baik-baik ayat Al-Quran berikut ini,

وَاَمَّامَنْ اُوْتِيَ كِتَبَهُ فَيَقُوْلُ يَلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتَبِيَهْ. وَلَمْ اَدْرِمَاحِسـَابِيَهْ. يَلَيْهَاكَانَتِ الْقَضَيَةَ.مَآاَغْنَى عَنِّيْ مَالِيَهْ.هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطَنِيَهْ.

Artinya :
“Dan adapun orang-orang yang kitabnya diberikan ditangan kirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jika kitab ini tidak diberikan kepadaku, sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku. Wahai kiranya kematianlah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku”. (QS. Al-Haqqah : 25-29)

Didalam kitab tafsir Ibnu katsier jilid ke8 halaman 200, menerangkan bahwa ayat tersebut menggambarkan keadaan orang-orang yang sengsara yaitu, orang-orang yang menerima catatan amalanya dengan tangan kirinya, maka mereka menyesal sehingga mengeluh, Aduhai sekiranya aku tidak menerima catatan ini dan aku tidak mengetahui perhitungan amalan yang jelek ini, aduhai sekiranya kematianku ini tidak dibangkitkan lagi pasti aku tidak menderita seperti ini, sungguh nyata sekarang bahwa harta kekayaanku dan kekuasaanku dulu tidak berguna sama sekali.

Kaum muslimin rahimahkumullah

Selanjutnya Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk menangkap dan memasungnya dan melemparkanya kedalam neraka, hal ini disampaikan Allah pada ayat berikutnya, yaitu ayat ke 30-37, pada surat yg sama, yang artinya sbb:
“Maka Allah menyuruh malaikat menangkap dan membelenggunya, kemudian melemparkanya kedalam neraka jahanam, Rantailah dengan rantai yang panjangnya 70 hasta. Sesungguhnya ia dahulu tidak percaya kepada Allah yang maha agung, tidak suka menganjurkan membantu memberi makan fakir miskin, maka sekarang disini tidak ada kawan karib lagi dan tidak ada makanan baginya kecuali dari darah yang bercampur nanah, yang tidak akan dapat memakannya kecuali orang-orang yang berdosa dan karena terpaksa. (QR. Al-Haqqa : 30-37)

Kaum muslimin rahimahkumullah

Pada ayat diatas Allah memerintahkan malaikat Zabaniah untuk menangkap, membelenggunya dan melemparkanya kedalam Neraka Jahanam, lalu setelah itu diperintahkan pula pada malaikat Zabaniah tsb untuk memasukan rantai dari dalam duburnya dan dikeluarkan dari mulutnya dan diikatkan rantai tersebut seolah-olah ia menggiring binatang yang  dipasung. Na’uzubillah suma na’uzubillah.

Kandungan ayat diatas mestinya menggugah hati kita, menjadikan kita gemetar, berkeringat dingin dan menangis terisak-isak, seakan saat itu kita sedang merasakan peristiwa yang teramat dahsyat dan akhirnya tumbuhlah perasaan takut yang amat dalam tehadap Allah ‘Azza Wa Jalla, agar kita tidak menjadi celaka seperti orang-orang yang disebutkan dalam ayat tersebut.
Sesungguhnya kita semua pasti akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti  dan kita akan dikumpulkan menjadi satu untuk mempertanggungjawabkan diri kita masing-masing.
Allah berfirman yang artinya:

“Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat.(yaitu) pada hari mereka mendengar  teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar dari kubur”. (QS. Qaaf : 41-42)

Dan surat lain Allah juga berfirman yang artinya:

“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta Alam? Sekali-kali jangan curang, karena sesungguhnya kitab orang yang durhaka tersimpan dalam sijjin”. (QS. Almuthaffifin : 4-7)

Dan manusia itu sendiri akan dibangkitkan persis seperti manusia pertama diciptakan, tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan. Ini disampaikan Allah dalam firmannya yg artinya : “Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, maka begitu pula kami mengembalikannya (mengulanginya)”. (QS. Al-Anbiya’: 104)

Kaum muslimin rahimah kumullah

Jadi jelaslah bahwa manusia itu akan dibangkitkan kembali seperti sebelumnya, tidak dikurangi sedikitpun. Dikumpulkan antara laki-laki dan perempuan membaur menjadi satu ditempat yang sama dan pada hari itu baik laki-laki maupun perempuan tidak saling menghiraukan lagi, mendengar keterangan Rasulullah saw tsb maka Sitti Aisah bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah antara laki-laki dan perempuan akan saling melihat yang satu dengan yang lainnya”  maka Rasulullah Saw menjawab yg artinya:

 “Perkara pada hari itu lebih keras daripada sekedar mereka saling melihat satu sama yang lainnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada hari itu laki-laki tidak akan tertarik dengan wanita dan begitu juga sebaliknya, karena mereka semua takut akan keputusan Allah Ta’ala. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala yang artinya :

 “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu akan sibuk dengan urusannya yg sangat menyibukannya”. (QS. Abasa: 34-37)

Disana kita hanya sibuk dengan urusan kita masing-masing, tidak ada ayah, ibu, anak, saudara dan karib kerabat, kita hanya mengurus urusan kita masing-masing. Tidak akan pula orang yang akan dapat menolong kita kecuali hanya amalan kita selama hidup didunia ini.
Demikianlah peristiwa yang sangat menakutkan yang akan terjadi diakhirat nanti, muda-mudahan akan menjadikan kita semakin takut akan ‘Azabnya Allah ‘Azza Wa Jalla, sebelum khutbah ini sy akhiri baiklah kita renungi ayat Allah berikut ini:

وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الْمُجْرِمُونَ نَاكِسُو رُءُوسِهِمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ رَبَّنَا أَبْصَرْنَا وَسَمِعْنَا فَارْجِعْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin [as-Sajdah/32:12]
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Artinya : “Hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Qs Al Mukminun: 99-100)

Demikianlah khutbah yang dapat kami sampikan pada hari ini, semoga Allah akan selalu memberikan Taufik dan Hidayahnya untuk mempelajari dan memahami agama yang mulia ini. Amiiin ya Rabbul ‘Aalamiin.
أَقُوْلُ قَوْلِىْ هَاذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ , إِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ






                               Khutbah kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، وَأَشُكُرُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى،
فَاتَّقُوْا اللهَ عِبَادَ اللهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، فَإِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ.
ثُمَّ اِعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَمَلَائِكَتِهِ قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَاشِدِيْنَ، اَلْأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ، أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ، وَجَعَلَ هَذَا البَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ المُسْلِمِيْنَ عَامَةً يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ، اللَّهُمَّ احْفَظْ عَلَيْنَا أَمْنَنَا وَإِيْمَانَنَا وَاسْتِقْرَارَنَا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ سُلْطَانَنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي دُوَرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ المُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَأَخْرِجْهُمْ مِنْ هَذَا الضَّيْقِ وَالشِّدَّةِ بِفَرَجِ عَاجِلٍ قَرِيْبٍ، (رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ).

عِبَادَ الله، (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ)، (وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمْ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلاً إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ)، فَذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرَ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.